Kamis, 14 Mei 2026

Harga Bitcoin (BTC) Jatuh Tajam, Aksi Short Whale Bikin Pasar Gemetar

Penulis : Indah Handayani
14 Mei 2026 | 06:39 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Bitcoin (BTC).
Ilustrasi Bitcoin (BTC).

JAKARTA, investor.idHarga Bitcoin (BTC) jatuh tajam pada Kamis (14/5/2026) pagi. Tekanan datang setelah aksi short jumbo senilai Rp1,1 triliun dari whale Hyperliquid mengguncang pasar kripto di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi global akibat perang Iran

Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 06.30 WIB, kapitalisasi pasar kripto global jatuh 1,35% menjadi US$ 2,65 triliun. Harga Bitcoin (BTC) hari ini anjlok 1,52% ke US$ 79.378 per koin atau sekitar Rp 1,39 miliar (kurs Rp 17.520).

Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar terpangkas 1,39%. Dengan Ethereum jatuh 0,9% ke US$ 2.260, Solana (SOL) terpukul 3,63% ke US$ 91,18, dan XRP terkoreksi 0,93% ke US$ 1,42.

ADVERTISEMENT

Sedangkan Binance (BNB) malah melesat 1,22% di US$ 672 dan Dogecoin (DOGE) terkerek 3,29% ke US$ 0,11.

Dikutip dari CoinTelegraph, harga Bitcoin (BTC) kembali kehilangan momentum dan turun di bawah level psikologis US$ 80.000, setelah aksi short jumbo senilai sekitar US$ 70 juta atau setara Rp1,1 triliun mengguncang pasar kripto dan saham teknologi.

Tekanan muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi global akibat lonjakan harga minyak dan memanasnya konflik Iran. Kondisi tersebut memicu spekulasi bahwa reli Bitcoin mulai kehilangan tenaga.

Aksi bearish besar dilakukan oleh seorang whale di platform Hyperliquid dengan alamat 0x8def…992dae. Berdasarkan data Hyperdash, alamat tersebut diduga milik Loracle, salah satu pengembang awal ekosistem Hyperliquid.

Whale tersebut membuka posisi short besar pada sejumlah aset kripto dan token sintetis berbasis saham teknologi. Dalam sepekan terakhir, posisi short terhadap token HYPE mencapai US$ 49 juta. Selain itu, terdapat posisi short Bitcoin senilai US$ 12,5 juta serta taruhan bearish pada saham teknologi dan indeks Nasdaq-100.

Aksi Short Whale

Menariknya, sebagian besar keuntungan whale tersebut sebelumnya justru berasal dari posisi bullish. Dalam dua pekan terakhir, ia sempat meraup keuntungan US$ 9,2 juta dari posisi beli Bitcoin, Zcash, dan Toncoin.

Whale itu juga mencatat laba US$ 3 juta dari taruhan bullish terhadap token sintetis berbasis harga minyak hanya dalam sembilan hari perdagangan.

Meski demikian, analis menilai aksi short tersebut lebih mencerminkan strategi perdagangan jangka pendek berbasis algoritma dibanding perubahan fundamental pasar kripto secara permanen.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak Brent di atas US$ 100 per barel akibat perang Iran dinilai dapat memperburuk tekanan inflasi global dan memaksa bank sentral AS atau The Fed memperluas neraca keuangannya.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan likuiditas di pasar sekaligus mempercepat inflasi. Dalam jangka pendek situasi ini bisa menekan aset berisiko seperti Bitcoin dan saham teknologi.

Namun dalam jangka menengah hingga panjang, meningkatnya inflasi dan berkurangnya kepercayaan terhadap obligasi pemerintah AS justru dinilai menjadi katalis positif bagi Bitcoin sebagai aset alternatif.

Analis menilai investor kemungkinan akan mulai mengurangi kepemilikan surat utang AS jika ekspansi moneter terus berlanjut dan inflasi semakin sulit dikendalikan.

Karena itu, meskipun aksi short whale Hyperliquid sempat memicu kekhawatiran pasar, banyak pelaku pasar menilai prospek jangka panjang Bitcoin masih tetap menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 2 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 13 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 42 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia