Kamis, 14 Mei 2026

Harga Minyak Turun, OPEC Pangkas Proyeksi Permintaan Global

Penulis : Indah Handayani
14 Mei 2026 | 09:52 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga minyak
ilustrasi harga minyak

JAKARTA, investor.id Harga minyak dunia turun pada perdagangan Kamis (14/5/2026), setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global dan Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan potensi lonjakan volatilitas pasar akibat perang Iran.

Dikutip dari CNBC internasional, harga minyak Brent untuk pengiriman Juli turun 0,21% menjadi US$ 105,42 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,16% ke level US$ 100,87 per barel. Kedua kontrak sebelumnya sempat bergerak menguat tipis di awal perdagangan.

Dalam laporan bulanan terbarunya, OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia 2026 menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari, turun dari sebelumnya 1,4 juta barel per hari.

ADVERTISEMENT

OPEC juga mencatat produksi minyak grup tersebut turun 1,7 juta barel per hari pada April dan telah anjlok lebih dari 30% atau sekitar 9,7 juta barel per hari sejak perang Iran pecah pada akhir Februari lalu.

Di sisi lain, IEA memperingatkan gangguan pasokan dari Selat Hormuz semakin menguras persediaan minyak global dengan kecepatan rekor. Menurut IEA, lebih dari 14 juta barel per hari pasokan minyak kini terganggu akibat konflik di Timur Tengah.

“Volatilitas harga minyak kemungkinan akan meningkat menjelang puncak permintaan musim panas,” tulis IEA dalam laporannya.

Analis ING menilai durasi tingginya harga energi kini sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz dan risiko kerusakan infrastruktur minyak serta gas di Timur Tengah.

Trump - Xi Disorot

Selain konflik Iran, pelaku pasar juga memantau pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Pertemuan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi arah perdagangan global dan permintaan energi dunia.

Mantan Menteri Perdagangan AS Carlos Gutierrez mengatakan China memiliki kepentingan besar agar konflik Timur Tengah segera mereda karena negara tersebut menjadi pembeli utama minyak yang melewati Selat Hormuz.

“Presiden Xi ingin perang ini berakhir sama besarnya dengan Presiden Trump,” ujarnya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 5 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 16 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 45 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia