Jumat, 15 Mei 2026

BI Sebut Forum Bank Sentral Asia Pasifik Soroti Kebijakan Sektor Keuangan

Penulis : Grace El Dora
2 Sep 2024 | 11:20 WIB
BAGIKAN
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung berbicara dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Bulan Agustus 2024 di Jakarta, Rabu (21/8/2024). (Foto: ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung berbicara dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Bulan Agustus 2024 di Jakarta, Rabu (21/8/2024). (Foto: ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) bersama otoritas keuangan negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik menyoroti kebijakan di sektor keuangan. Pihaknya melihat tantangan dan perkembangan terkini, kemudian menyiapkan respons kebijakan yang menjawab tantangan tersebut, termasuk pengawasan perbankan.

Para otoritas keuangan tersebut tergabung dalam Executives' Meetings of East Asia Pasific Central Banks (EMEAP) Working Group On Banking Supervision (WGBS) ke-56. BI sebagai Ketua (Chair) EMEAP pada periode 2024-2026.

"Kerja sama EMEAP WBGS ditujukan untuk mendorong sinergi dalam upaya menjaga stabilitas sistem keuangan, inovasi kebijakan, dan penguatan praktik pengawasan sektor perbankan," ungkap Deputi Gubernur BI Juda Agung di Jakarta, Senin (2/92/2024).

ADVERTISEMENT

EMEAP WBGS ke-56 yang diselenggarakan pada 29-30 Agustus 2024 di Bali ini berfokus pada digitalisasi keuangan dan transisi keuangan hijau, perkembangan pengaturan Basel Core Principle, serta keamanan siber.

Pertemuan EMEAP WGBS ke-56 menghasilkan berbagai inisiatif utama pada tiga area meliputi keuangan berkelanjutan, kebijakan makroprudensial, dan upaya pemulihan perbankan.

Para peserta turut menyepakati rencana pengembangan kapasitas otoritas keuangan dengan prioritas pada area terkait manajemen risiko dan digitalisasi sektor keuangan. Menurut mereka, hal ini adalah bagian rencana tindak lanjut kolaborasi anggota EMEAP WGBS ke depan.

Dalam pertemuan itu, Juda menuturkan lanskap sistem keuangan global mengalami evolusi signifikan.

Evolusi ini utamanya bersumber dari pesatnya kemajuan digitalisasi dan transisi keuangan hijau. Perubahan tersebut mempengaruhi model bisnis perbankan sekaligus menawarkan potensi yang besar, namun di sisi lain dapat menimbulkan kerentanan yang berdampak pada stabilitas sistem keuangan.

Perkembangan tersebut menuntut adaptasi respons kebijakan dan praktik pengawasan secara tepat dan efektif. Sedangkan dari aspek digitalisasi sektor keuangan, regulator perlu mendorong inovasi dengan tetap memastikan pengelolaan risiko secara memadai, termasuk yang bersumber dari keamanan siber.

Sementara itu, terkait upaya transisi keuangan hijau, regulator perlu mengambil inisiatif untuk mendukung transisi di sektor keuangan, diantaranya melalui kolaborasi bersama sektor industri, pengungkapan dan pelaporan berkelanjutan, penyediaan data, dan penguatan sinergi antar otoritas keuangan.

Diskusi forum EMEAP WGBS juga mengulas pentingnya memahami dan menerapkan intelijen risiko siber yang efektif untuk menjaga sistem keuangan dan memastikan ketahanan operasional.

Dalam hal ini, BI mengembangkan kerangka keamanan dan ketahanan siber yang didasarkan pada tiga pilar yaitu tata kelola, pencegahan, dan penanganan. Kerangka kerja tersebut berfungsi sebagai pedoman bagi sektor keuangan, menetapkan standar minimum yang seragam untuk mencegah serangan siber.

"Pilar-pilar ini didukung oleh pengawasan dan kolaborasi yang berkelanjutan untuk memastikan bahwa setiap kerentanan dalam sistem sektor keuangan dapat diidentifikasi dan ditangani secepatnya," ungkap Juda.

Anggota EMEAP WGBS terdiri dari Reserve Bank of Australia; Australian Prudential Regulation Authority; People's Bank of China; National Financial Regulatory Administration; Hong Kong Monetary Authority; Bank Indonesia; Otoritas Jasa Keuangan; Bank of Japan; Japan Financial Sector Agency; Bank of Korea; Korea Financial Supervisory Service; Bank Negara Malaysia; Reserve Bank of New Zealand; Bangko Sentral ng Pilipinas; Monetary Authority of Singapore; dan Bank of Thailand.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia