Jumat, 15 Mei 2026

DPR Terputus dari Rakyat, Cenderung Jadi “Stempel” Eksekutif

Penulis : Akmalal Hamdhi
2 Sep 2025 | 19:51 WIB
BAGIKAN
Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) membawa poster saat melakukan aksi di depan Gedung DPRD Kota Malang, Jawa Timur, Senin (1/9/2025). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) membawa poster saat melakukan aksi di depan Gedung DPRD Kota Malang, Jawa Timur, Senin (1/9/2025). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Gani mengamati, tidak seperti Pilpres atau Pilkada, kunci keterpilihan anggota DPR atau DPRD lebih bergantung pada pemeliharaan basis konstituen dan insentif untuk populer di publik. Persoalan ini yang selanjutnya membuat maraknya legislasi disahkan secara terburu-buru tanpa partisipasi publik. Proses legislasi yang cepat, bahkan dalam hitungan hari, mencederai legitimasi lembaga perwakilan.

“Dominasi petahana inilah yang kemudian mempersempit ruang dialog dan partisipasi masyarakat, sehingga berkontribusi pada penurunan tajam indeks deliberative democracy di Indonesia,” ujar Gani.

Untuk mengatasi krisis kepercayaan ini, CSIS mendorong reformasi yang mendesak, baik pemerintah maupun partai politik. Gani menegaskan bahwa reformasi tidak bisa ditunda lagi. Langkah-langkah yang diperlukan terbagi dalam jangka pendek maupun menengah. Tidak ada rekomendasi langkah jangka panjang.

Pertama-tama, pemerintah dan DPR harus memperbaiki komunikasi dengan mengedepankan empati dan menunjukkan keberpihakan nyata kepada masyarakat. Transparansi anggaran lembaga perwakilan, termasuk kegiatan reses, juga harus ditingkatkan.

ADVERTISEMENT

Kemudian, pemerintah dan DPR harus membenahi sistem pemilu dan partai politik untuk mendorong akuntabilitas, demokratisasi internal, dan transparansi pendanaan partai. Hal itu perlu ikut didukung penguatan kapasitas parlemen, dimana DPR harus diperkuat agar tidak hanya menjadi “alat stempel” eksekutif, tetapi juga mampu menghadirkan alternatif kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Menurut CSIS, solusi ini harus dilakukan secara komprehensif untuk mencegah degradasi demokrasi lebih lanjut dan mengembalikan kepercayaan publik pada lembaga perwakilan. “Saya tidak buat target jangka panjang, karena memang kita tidak perlu panjang-panjang lagi, reformasi harus dilakukan sekarang,” tandas Gani.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia