Kamis, 14 Mei 2026

Unibraw: Tembakau Bisa Tangkal Ebola

Penulis : Alex Dungkal dan Emral Ferdiansyah
25 Aug 2014 | 11:02 WIB
BAGIKAN

JAKARTA - Saat ini dunia dikejutkan dengan serangan virus ebola yang sudah menewaskan 1.350 orang. Namun Indonesia dinilai tak perlu panik karena memiliki banyak tanaman tembakau yang diperkirakan bisa menjadi obat untuk virus ebola.
 
Guru Besar Biocell Universitas Brawijaya (Unibraw) Profesor Sutiman menjelaskan selain memiliki manfaat dari sisi bisnis, tembakau juga bisa dipergunakan untuk membuat vaksin yang mencegah penularan virus ebola. Dia bahkan menyatakan dengan modal pengetahuan yang cukup, akan mudah mengubah racun menjadi obat.
 
Menurutnya indikasi orang terserang virus ebola adalah badan terasa panas selama dua hari hingga tiga pekan, tenggorokan sakit, otot pegal-pegal, kepala pening, muntah-muntah dan diare. Setelah itu, katanya, akan terjadi penurunan fungsi hati dan ginjal dan darah keluar dari pori-pori kulit.

"Namun, penyakit ini bisa dicegah menggunakan vaksin dari tembakau," ujar Sutiman yang juga pendiri Rumah Sehat dengan Terapi Rokok di Jakarta, Senin (25/8).
 
Lebih lanjut dia menjelaskan, di dalam tanaman tembakau terdapat tobacco mozaic virus yang bisa disisipi gen anti bodi untuk anti ebola. Dengan demikian, katanya, tanaman tembakau bisa memproduksi vaksin anti ebola.

Selain untuk pencegahan ebola, tembakau dinilai memiliki banyak manfaat untuk kesehatan seperti untuk mengobati sakit perut dengan memasukkan asapnya melalui dubur. "Itu memang mengagetkan banyak orang. Tapi bagi orang yang tahu tidak merasa kaget lagi, sebab tembakau memang memiliki banyak manfaat," imbuhnya.

Oleh karenanya dia sangat menyayangkan bila pemerintah mengartikan world tobacco day sebagai hari anti tembakau, padahal yang benar adalah hari tanpa merokok. Pemerintah dinilai perlu meluruskan hari tanpa tembakau karena tembakau bisa memberikan banyak  manfaat bagi kesehatan sejak abad ke-15.

Dia juga menyatakan siap membuat vaksin anti virus  ebola apabila Universitas Brawijaya  dipercaya pemerintah untuk memproduksinya. Namun dia menilai permasalahannya bukan cara membuat vaksin itu, tapi bagaimana mengembangkan dan memasarkannya.

Sutiman mengingatkan semua pihak, terutama  pemerintah, agar tidak mudah termakan kampanye global yang bisa memusnahkan kekayaan hayati tembakau di Indonesia. Hal ini karena Indonesia memiliki banyak varietas tembakau yang tidak ada di tempat lain seperti tembakau Madura, Jember dan Temanggung.
 
"Nah itu yang mestinya dipelajari biar tidak rugi dalam jangka panjang sebagaimana yang sudah terjadi pada minyak kelapa. Jadi, kampanye  terkait tembakau jangan ngawur,  harus  mencerdaskan. Sebab, tembakau itu manfaatnya banyak," tandasnya. (wyu)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 28 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia