Kamis, 14 Mei 2026

DSSA & BREN Bisa Kena Outflow Segini Gara-gara MSCI

Penulis : Jauhari Mahardhika
13 Mei 2026 | 11:07 WIB
BAGIKAN
Suasana sebuah acara di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (B-Universe Photo/Chesa Andini Saputra)
Suasana sebuah acara di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (B-Universe Photo/Chesa Andini Saputra)

JAKARTA, investor.id – Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi pusat tekanan terbesar dari hasil MSCI rebalancing Mei 2026.

DSSA diperkirakan menghadapi passive outflow sekitar Rp 9 triliun dengan free-float adjusted market cap MSCI sekitar Rp 66,1 triliun. BREN berpotensi terkena outflow sekitar Rp 6 triliun dengan FIF-adjusted market cap sekitar Rp 42,1 triliun.

“Artinya, lebih dari separuh tekanan MSCI sebenarnya hanya bertumpu pada dua saham tersebut,” tulis tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam ulasannya, Rabu (13/5/2026).

ADVERTISEMENT

Saham lainnya seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tetap terdampak, tetapi skalanya relatif lebih terbatas karena market cap saham-saham tersebut sudah terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun.

“Karena itu, estimasi foreign outflow kini mulai terlihat lebih realistis dibandingkan panic scenario awal yang sempat mengarah ke Rp 50 triliun lebih,” sebut Kiwoom Sekuritas.

Adapun Joeliardi Sunendar memperkirakan outflow sekitar Rp 27,8-31 triliun, CGS International sekitar Rp 31,5 triliun, dan Citi dalam skenario worst case memperkirakan sekitar Rp 34,7 triliun.

Lebih lanjut, Kiwoom Sekuritas menjelaskan bahwa foreign net sell sekitar Rp 49 triliun (ytd) belum tentu sudah sepenuhnya mencerminkan efek MSCI. Sebagian tekanan diperkirakan sudah front-loaded sejak beberapa bulan terakhir, karena investor global biasanya mulai positioning jauh sebelum effective date 29 Mei 2026.

“Saham seperti DSSA, BREN, CUAN, hingga AMMN sudah mengalami tekanan cukup besar sebelum pengumuman final keluar,” jelas Kiwoom Sekuritas.

Secara market behavior, kemungkinan paling realistis adalah sebagian tekanan MSCI sudah tercermin pada foreign outflow (ytd), tetapi belum sepenuhnya selesai karena passive tracker dan ETF benchmark MSCI biasanya masih melakukan penyesuaian tambahan mendekati tanggal implementasi.

Terdapat total 18 saham Indonesia keluar dari berbagai kategori indeks MSCI, sementara saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menjadi satu-satunya yang masih bertahan, meski turun kelas ke MSCI Global Small Cap.

“Jika dicermati lebih dalam, tekanan jual sebenarnya tidak tersebar merata dan justru terkonsentrasi pada beberapa saham tertentu,” pungkas Kiwoom Sekuritas.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 28 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 60 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia