BI Terus Berada di Pasar Perdana hingga Akhir 2021
JAKARTA, investor.id -- Untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional di tengah deraan pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, Bank Indonesia (BI) akan tetap berada di pasar perdana lelang SBN hingga akhir 2021. Bank sentral tetap mengambil bagian dalam burden sharing dengan pemerintah agar APBN tetap andal, mendapatkan kepercayaan pasar, dan pemulihan ekonomi dapat berjalan sukses.
“Kita perlu membangun harapan dan membangkitkan optimism bahwa tahun ini lebih baik. Kita harus yakin, lewat sinergi, semangat gotong royong, dan persatuan, ekonomi 2021 akan lebih baik dari tahun 2020,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo pada acara Silaturahmi Tahun Baru 2021 dengan topik “Bersinergi Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi”, Senin (4/1/2021).
Perry mengajak semua pihak agar meningkatkan kegotongroyongan, persatuan, dan sinergi agar pandemi Covid-19 bisa diatasi dan UU Cipta Kerja bisa diimplementasikan dengan baik.
Hadir pada pertemuan secara virtual, antara lain Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa, Wamenkeu Suahasil Nazara, anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Pius Listrilanang, Wakil Mendag Jerry Sambuaga, dan pimpinan PPATK, anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI) Edhi Purnawan, para bankir, ekonom, dan pemimpin redaksi.
Perry menjelaskan, kesepakatan BI dan Kementerian Keuangan pada 16 April 2020 untuk membeli SBN di pasar perdana sudah diperpanjang hingga akhir 2021. Dalam kesepakatan itu, BI akan hadir di pasar perdana sebagai non competitive bidder untuk membeli surat berharga Negara (SBN) yang dilelang pemerintah.
“BI akan tetap hadir di pasar perdana hingga akhir tahun 2021,” ujar Perry.
Sampai dengan 15 Desember 2020, Bank Indonesia telah membeli SBN di pasar perdana melalui mekanisme pasar sesuai dengan Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia tanggal 16 April 2020, sebesar Rp 75,86 triliun, termasuk dengan skema lelang utama, Greenshoe Option (GSO) dan Private Placement.
Sementara itu, realisasi pendanaan dan pembagian beban untuk pendanaan Public Goods dalam APBN tahun 2020 oleh Bank Indonesia melalui mekanisme pembelian SBN secara langsung sesuai dengan Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia tanggal 7 Juli 2020, berjumlah Rp 397,56 triliun.
Dengan demikian, secara keseluruhan Bank Indonesia telah melakukan pembelian SBN untuk pendanaan dan pembagian beban dalam APBN 2020 guna program pemulihan ekonomi nasional sebesar Rp 473,42 triliun.
Selain itu, Bank Indonesia juga telah merealisasikan pembagian beban dengan Pemerintah atas penerbitan SBN untuk pendanaan Non Public Goods- UMKM sebesar Rp114,81 triliun dan Non Public Goods-Korporasi sebesar Rp62,22 triliun sesuai dengan Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia tanggal 7 Juli 2020. Dengan sinergi ini, Pemerintah dapat lebih memfokuskan pada upaya akselerasi realisasi APBN tahun 2020 untuk mendorong pemulihan perekonomian nasional.
Sementara itu, hingga 15 Desember 2020, Bank Indonesia telah menambah likuiditas (quantitative easing) di perbankan sekitar Rp 694,87 triliun, terutama bersumber dari penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sekitar Rp 155 triliun dan ekspansi moneter sekitar Rp 524,07 triliun.
Pada periode yang sama, bank sentral menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) menjadi sebesar 3,75%. Ini adalah quantitative easing terbesar dan suku bunga acuan terendah sepanjang sejarah BI.
Perry optimistis, pada tahun 2021, laju pertumbuhan ekonomi akan mencapai 4,8%-5,8%, inflasi 3% dengan plus-minus 1%, kurs rupiah akan stabil dan cenderung menguat, kredit perbankan bertumbuh 9%, dan neraca pembayaran yang lebih sehat.
Pada Maret 2020, saat pandemi Covid-19 menyergap negeri ini, nilai tukar rupiah pernah melemah hingga hampir menembus Rp 17.000 per dolar AS. Tapi, dengan koordinasi yang baik dengan otorotas fiskal, OJK, LPS, perbankan, dan dengan berbagai pihak, rupiah kembali stabil dan Senin (4/1/2021), rupiah berada di level di bawah Rp 14.000 per dolar AS.
Selama pandemi, kata Wimboh Santoso, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) –yang beranggotakan Menkeu, BI, OJK, dan LPS-- terus berkoordinasi memulihkan ekonomi lewat berbagai kebijakan counter cyclical. Restrukturisasi mampu mempertahankan era perbankan.
Perbakan nasional kini dalam kondisi sehat. Pasar modal terus menggeliat setelah harga saham mengalami penurunan tajam. Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang pernah anjlok hingga 30%, kini sudah hampir kembali ke level sebelum pandemi. IHSG sudah di atas 6.100 pada penutupan perdagangan Senin (4/1/2021).
Saat suku bunga rendah, pemodal diimbau investasi di pasar modal. Perusahaan yang membutuhkan dana, kata Wimboh, diharapkan ke pasar modal. Perusahaan yang membutuhkan dana silakan ke pasar modal, baik lewat penjualan saham maupun obligasi.
Perbankan nasional kini mengalami over likuiditas. Perbankan menunggu kesiapan perusahaan untuk menyerap dana. Namun, perusahaan belum berani melakukan ekspansi karena kelas menengah belum nyaman untuk berbelanja. Koordinasi yang baik antarlembaga otoritas keuangan diapresiasi oleh para bankir.
Dirut PT CIMB Niaga Tbk Tigor Siahaan mengatakan, sinergi yang baik antara BI dengan otoritas fiskal, OJK, dan LPS mampu mencegah krisis ekonomi merembet ke sektor keuangan. “Kondisi moneter dan keuangan cukup stabil dan sistem keuangan kita tidak terganggu,” ungkap Tigor.
Dirut PT BCA Tbk Jahja Setiaatmaja mengapresiasi kinerja BI. Selain sukses melakukan stabilisasi moneter, bank sentral membantu pemerintah lewat burden sharing. BI sudah menunjukkan pentingnya sinergi dan semangat gotong royong.
“Tapi, persoalan Indonesia saat ini adalah rendahnya mobilitas manusia akibat Covid-19,” ujar Jahja.
Oleh karena itu, upaya menghentikan Covid-19 merupakan solusi terpenting agar warga kembali diperbolehkan bergerak dan berinteraksi. Selama pandemi ini masih berkembang, selama itu pula mobilitas penduduk dibatasi. (jn)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Tag Terpopuler
Terpopuler






