Kamis, 14 Mei 2026

Dubes Gandi Sulistiyanto Kunjungi Pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia

Penulis : Investor Daily
29 Des 2021 | 15:11 WIB
BAGIKAN
Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea, Gandi Sulistiyanto melakukan kunjungan perdana ke fasilitas pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) berlokasi di Cikarang, Jawa Barat, Selasa (28/12/2021). (Ist)
Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea, Gandi Sulistiyanto melakukan kunjungan perdana ke fasilitas pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) berlokasi di Cikarang, Jawa Barat, Selasa (28/12/2021). (Ist)

JAKARTA, investor.id -- Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea, Gandi Sulistiyanto melakukan kunjungan perdana ke fasilitas pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) berlokasi di Cikarang, Jawa Barat, Selasa (28/12/2021).

Dia mengatakan, sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo, pembuatan mobil listrik oleh pabrik Hyundai diarahkan untuk membentuk suatu ekosistem industri mobil listrik dari hulu sampai ke hilir yang terbesar tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kawasan Asia Tenggara.

“Oleh karena itu, saya berharap dapat menyaksikan pabrik Hyundai Indonesia tidak hanya fokus untuk merampungkan mobil listrik tetapi juga menuntaskan pembuatan sel baterai di Indonesia,” tandas Gandi Sulistiyanto dalam sambutannya saat berkunjung ke Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) berlokasi di Cikarang, Selasa (28/12/2021).

Dubes Gandi Sulistiyanto Kunjungi Pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia
Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea, Gandi Sulistiyanto melakukan kunjungan perdana ke fasilitas pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) berlokasi di Cikarang, Jawa Barat, Selasa (28/12/2021).

Lebih lanjut Dubes Sulis, demikian beliau akrab dipanggil oleh koleganya, menekankan pentingnya pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia yang bekerja di pabrik Hyundai. Dia berharap agar HMMI bekerjasama dengan lembaga pendidikan di Indonesia untuk giat meningkatkan keahlian dan keterampilan SDM Indonesia seperti penguasaan alat-alat digital untuk merakit mobil.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Chair HMMI Lee Young Tack,secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Dubes Sulis atas kunjungan perdana tersebut. Dengan menerapkan prinsip ramah lingkungan, ramah pekerja dan bertumbuh bersama, HMMI mempekerjakan 3.720 SDM. Pabrik akan mulai berproduksi di bulan Januari 2022. Berbagai mobil yang akan diproduksi yaitu B-SUV, B-MPV, Sedan, dan mobil listrik model IONIQ 5.

Dubes Gandi Sulistiyanto Kunjungi Pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia
Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea, Gandi Sulistiyanto melakukan kunjungan perdana ke fasilitas pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) berlokasi di Cikarang, Jawa Barat, Selasa (28/12/2021).

Hyundai IONIQ5 dibangun dengan arsitektur BEV khusus dari Hyundai Motor Group yang disebut Electric-Global Modular Platform (E-GMP). Terdapat dua pilihan opsi ukuran baterai, 58 kWh atau 72,6 kWh3, dan dua tata letak motor listrik, baik dengan motor belakang saja atau dengan motor penggerak bagian depan dan belakang. Mobil dengan konsep midsize CUV (Crossover Utility Vehicle) ini dibekali fitur-fitur ramah lingkungan, berkelanjutan, serta inovatif. Mobil listrik ini memiliki fitur pengisian baterai ultra-fast yang bisa mengisi daya dari 10-80% hanya dalam 18 menit.

Pembuatan mobil listrik oleh Hyundai merupakan tindak lanjut dari penandatanganan MoU di pusat pembuatan mobil Hyundai di Kota Ulsan yang disaksikan oleh Presiden Joko Widodo di tahun 2019. Komitmen Pemerintah Indonesia dalam menangani lingkungan dan perubahan iklim tampak nyata melalui penerbitan Perpres Nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.

Dubes Gandi Sulistiyanto Kunjungi Pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia
Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea, Gandi Sulistiyanto melakukan kunjungan perdana ke fasilitas pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) berlokasi di Cikarang, Jawa Barat, Selasa (28/12/2021).

Saat ini, pemerintah Indonesia sedang membangun kawasan industri hijau terbesar di dunia seluas 12.500 hektare yang berlokasi di Kalimantan Utara.

Investasi raksasa LG Consortium US$ 9,8 miliar membuat Indonesia sebagai negara yang pertama di dunia yang memiliki industri baterai listrik dari pertambangan hingga baterai lithium mobil listrik. Pengembangan industri baterai listrik terintegrasi merupakan langkah konkret yang sejalan dengan target Presiden Jokowi untuk mendorong transformasi ekonomi menuju Indonesia Maju 2045.


 

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 2 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 31 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia