Dorong Hilirisasi Sawit, Naikkan Pajak Impor Katalis
BANDUNG, investor.id–Pemerintah perlu menaikkan pajak impor katalis dan menggunakan perolehan dananya untuk melakukan riset pembuatan zat yang mampu mempercepat proses reaksi kimia tersebut. Saat ini, tarif impor katalis hanya 5-8% dari harga jual. Langkah tersebut diperlukan agar Indonesia bisa mengurangi impor sekaligus mewujudkan kemandirian katalis, sehingga harapannya ke depan hilirisasi sawit yang mengarah ke produk oleokimia dan bahan bakar nabati nasional, seperti biodiesel, bensin, bioavtur, makin berkembang.
Plt Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga mengatakan, impor katalis setahun sekitar US$ 190 juta, digunakan untuk industri oleokimia dan pengolahan bahan bakar termasuk berbasis sawit. Saat ini, Pusat Rekayasa Katalisis Institut Teknologi Bandung (PRK ITB) telah berhasil membuat sejumlah katalis, meski baru sebagian yang sudah masuk tahap komersialisasi seperti untuk biodiesel sawit (fatty acid methyl ester/FAME).
“Ketika tahu Indonesia bisa bikin katalis, harganya langsung turun 30-35%. Karenanya, kalau kita mau maju dan mandiri dari sisi katalis maupun bahan bakar, termasuk yang berbasis sawit, pajak impor katalis harus dinaikkan dan dananya untuk penelitian guna menciptakan berbagai katalis yang diperlukan bagi industri,” tutur Sahat.
Sahat Sinaga mengatakan hal itu di sela kunjungan 30 jurnalis ke Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis (TRKK) dan PRK ITB di Bandung, Jawa Barat, Rabu (31/01/2024), guna mendapatkan informasi tentang katalis dan pemanfaatan sawit untuk bensin dan bioavtur. Inovasi katalis yang dihasilkan Tim Peneliti Laboratorium TRKK dan PRK ITB menjadi loncatan besar bagi pengembangan bioenergi dan sektor industri di Indonesia. Pasalnya, Indonesia masih mengimpor katalis dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri.
Kepala Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis (TRKK) ITB Melia Laniwati Gunawan menjelaskan, inovasi katalis yang dihasilkan ITB menjadi penting karena 90% kebutuhan katalis Indonesia masih diimpor dari negara lain, seperti Jerman, China, India, dan Amerika Serikat.
Karena itulah, sangat mendesak bagi Indonesia untuk menghasilkan katalis sendiri supaya tidak bergantung kepada negara lain. “Memang jumlah dan kebutuhan katalis ini ribuan karena menyesuaikan kebutuhan industri itu sendiri. Bentuknya juga beragam ada yang seperti serbuk dan pelet,” ujar Melia.
Dengan menghasilkan katalis sendiri, kata Melia, Laboratorium TRKK dan PRK ITB telah melakukan pengembangan teknologi katalisis dan proses untuk memproduksi bensin sawit. Pada 2019, Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit (BPDPKS) membantu pendanaan TRKK ITB untuk pengembangan katalis dan membangun unit produksi bensin sawit berkapasitas 20 liter per hari. Lalu pada 2015, Pertamina dan Laboratorium TRKK ITB melakukan uji coba proses produksi diesel biohidrokarbon dengan reaktor skala komersial Pertamina di RU2 Dumai melalui skema co-processing.
Berikutnya, Pertamina, ITB, dan BPDPKS mampu memproduksi diesel biohidrokarbon dengan skema mandiri (stand-alone) untuk memproduksi D100. Laboratorium TRKK ITB bersama Pertamina dan didukung BPDPKS juga berhasil memproduksi bioavtur J2.4 (campuran 2,4% biokerosene dalam avtur fosil). Saat ini, bioavtur digunakan untuk uji terbang menggunakan pesawat terbang komersial milik Garuda jenis Boeing 737-800.
Percepat Konversi
Kunjungan 30 jurnalis ke Laboratorium TRKK dan PRK ITB itu merupakan rangkaian Workshop Jurnalis Industri Hilir Sawit bertema Perkembangan dan Kontribusi Industri Hilir Sawit bagi Perekonomian Indonesia yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia pada 31 Januari-2 Februari 2024 di Bandung, Jawa Barat.
Melia mengapresiasi kunjungan media yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dalam rangka memberikan informasi kepada masyarakat berkaitan pengembangan katalis dan produk biofuel yang telah dihasilkannya. “Kami ingin meluruskan informasi di masyarakat mengenai katalis, jadi ada yang bilang katalis itu dari sawit. Padahal, katalis itu bukan dari sawit. Tapi, katalis itu membantu proses konversi minyak sawit dan inti sawit menjadi bahan bakar nabati,” kata Melia.
Ketua Pelaksana Workshop Jurnalis Industri Hilir Sawit Qayuum Amri mengapresiasi Laboratorium TRKK dan PRK ITB yang menerima kunjugan media nasional untuk belajar katalis dan pemanfaatannya bagi sektor industri sawit. “Kami mendapatkan banyak informasi dari kunjungan dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Laboratorium TRKK dan PRK ITB yang menghasilkan inovasi luar biasa dengan katalis ini,” ujar Qayuum.
Kegiatan itu didukung BPDPKS. Dukungan juga datang dari DMSI, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).
Pembicara yang hadir antara lain Achmad Maulizal (Kepala Divisi Perusahaan BPDPKS), Setia Diarta (Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian), Sahat Sinaga (Plt Ketua Umum DMSI), Rapolo Hutabarat (Sekjen Apolin), Fenny Sofyan (Ketua Kompartemen Media Relation Gapki), dan Lienda Aliwarga (Guru Besar ITB).
Editor: Tri Listiyarini
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler




