Kamis, 14 Mei 2026

Momentum Mendongkrak Ekspor dan Investasi di Industri Alas Kaki

Penulis : Alfida Rizky Febrianna
20 Jul 2025 | 16:12 WIB
BAGIKAN
Foto ilustrasi. Pekerja menata sepatu yang telah selesai diproduksi di Sentra Penjualan Sepatu Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat, Selasa (4/2/2025). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Foto ilustrasi. Pekerja menata sepatu yang telah selesai diproduksi di Sentra Penjualan Sepatu Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat, Selasa (4/2/2025). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

JAKARTA, investor.id – Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menyambut baik keputusan Amerika Serikat (AS) memangkas tarif bea masuk produk Indonesia dari 32% menjadi 19%. Harapannya, tarif baru ini menjadi momentum untuk meningkatkan nilai ekspor dan investasi industri padat karya alas kaki dalam negeri.

Direktur Eksekutif Aprisindo, Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan, meski pemangkasan tarif ini dianggap sebagai tantangan oleh berbagai pihak, namun bagi industri padat karya seperti di sektor alas kaki, kebijakan itu dapat dimaknai sebagai peluang strategis ke depannya.

“Karena hasil tarif 19% bagi Indonesia ini memberikan dampak yang positif dengan harapan meningkatkan nilai ekspor dan investasi di sektor industri padat karya alas kaki,” ungkapnya dalam keterangan resmi dikutip pada Minggu (20/7/2025).

ADVERTISEMENT

Yoseph menjelaskan, tarif resiprokal AS menjadi salah satu faktor eksternal paling berpengaruh pada angka ekspor sektor alas kaki yang mencapai US$ 2.393 juta pada 2024. Ke depannya, angka ini akan mengalami peningkatan signifikan.

Menurut Yoseph, peluang peningkatan nilai ekspor dan investasi ini juga nantinya akan berdampak kepada peningkatan penyerapan tenaga kerja di industri padat karya.

Momentum Mendongkrak Ekspor dan Investasi di Industri Alas Kaki
Komoditas ekspor RI ke AS. (Ilustrasi: Investor Daily)

Apalagi, tutur dia, industri padat karya pada sektor alas kaki menyerap banyak tenaga kerja hingga lebih dari 1,3 juta orang, yang menjadi salah satu penyangga perekonomian nasional.

Selain itu, Yoseph menilai, tarif impor 19% ini membawa Indonesia akan lebih kompetitif dibandingkan dengan negara lain. Indonesia dapat lebih bersaing dengan Vietnam yang dikenakan tarif 20%, Kamboja 36%, Malaysia 25%, Thailand 36%, Laos 40%, serta Korea Selatan dan Jepang 25%.

“Di sektor alas kaki, pekerja Indonesia memiliki keunggulan kualitas dalam membuat alas kaki dengan telaten dan rapi, dimana pihak buyer akan mencari kualitas lebih bagus dengan tarif masuk dengan harga yang terjangkau untuk memanfaatkan peluang ini,” ucapnya.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 3 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 32 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia