Pakar Bicara Kandungan Etanol di BBM
JAKARTA, Investor.id - Kandungan etanol di bahan bakar minyak (BBM) sudah lazim dilakukan di luar negeri. Bahkan, kandungannya berkisar 5-10%.
Keberadaan etanol justru positif untuk lingkungan, karena bisa mengurangi emisi karbon. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI) Ali Ahmudi.
“Ini sudah lazim dipakai dan berpengaruh sangat baik untuk lingkungan, karena mereduksi emisi karbon. Shell Eropa menjual BBM dengan etanol 5-8%. Di Amerika Serikat (AS) begitu juga. Ini bukan hanya untuk kepentingan bisnis, namun mengurangi minyak dari fosil,” kata Ali, dikutip Sabtu (4/10/2025).
Tidak hanya di Eropa dan AS, dia menegaskan, pemain migas Australia juga sudah menggunakan etanol di dalam bahan bakar. BP Australia, misalnya, menjual BBM dengan kandungan etanol 10%.
Menurut Ali, perusahaan-perusahaan energi di berbagai negara juga pasti ingin terlibat dalam proses transisi energi untuk mereduki emisi dan global warming. Salah satunya dengan menggunakan bahan bakar ramah lingkungan.
”Jadi ini sudah praktik global, bukan lagi lokal dan regional. Ini dilakukan oleh Shell, Total, dan BP di luar negeri. Hampir semuanya,” imbuh Ali.
Karena itulah, Ali mempertanyakan, alasan penolakan SPBU swasta di Tanah Air terhadap BBM impor Pertamina. Terlebih, penolakan dilakukan dengan alasan mengandung etanol 3,5%.
Padahal, kata Ali, angka tersebut jauh di bawah kandungan etanol di luar negeri dan tentu saja aman untuk mesin kendaraan bermotor. Apalagi, mesin mobil terbaru dirancang untuk menggunakan bahan bakar lebih ramah lingkungan.
Ali mempertanyakan penolakan SPBU swasta terhadap BBM impor Pertamina. Jika alasan mayor, artinya BBM yang dijual SPBU swasta bisa merusak mesin. Adapun alasan minor berarti SPBU swasta hanya mencari alasan.
Ali berharap masyarakat juga teredukasi dengan baik. Apalagi, di era media sosial seperti sekarang. “Prinsipnya, apa yang mereka pahami, termasuk soal etanol di BBM, belum tentu benar,” pungkas Ali.
Sebelumnya, Vivo dan BP-AKR yang telah sepakat membeli BBM impor dari Pertamina, memang rencana tersebut. Alasannya, BBM murni Pertamina mengandung etanol 3,5%.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler






