Kamis, 14 Mei 2026

Pakar Bicara Kandungan Etanol di BBM

Penulis : Harso Kurniawan
4 Okt 2025 | 17:58 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi SPBU Pertamina. (Foto: istimewa)
Ilustrasi SPBU Pertamina. (Foto: istimewa)

JAKARTA, Investor.id - Kandungan etanol di bahan bakar minyak (BBM) sudah lazim dilakukan di luar negeri. Bahkan, kandungannya berkisar 5-10%.

Keberadaan etanol justru positif untuk lingkungan, karena bisa mengurangi emisi karbon. Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan  Universitas Indonesia (Puskep UI) Ali Ahmudi.

“Ini sudah lazim dipakai dan berpengaruh sangat baik untuk lingkungan, karena mereduksi emisi karbon. Shell Eropa menjual BBM dengan etanol 5-8%. Di Amerika Serikat (AS) begitu juga. Ini bukan hanya untuk kepentingan bisnis, namun mengurangi minyak dari fosil,” kata Ali, dikutip Sabtu (4/10/2025).

ADVERTISEMENT

Tidak hanya di Eropa dan AS, dia menegaskan, pemain migas Australia juga sudah menggunakan etanol di dalam bahan bakar. BP Australia, misalnya, menjual BBM dengan kandungan etanol 10%.

Menurut Ali, perusahaan-perusahaan energi di berbagai negara juga pasti ingin terlibat dalam proses transisi energi untuk mereduki emisi dan global warming. Salah satunya dengan menggunakan bahan bakar ramah lingkungan. 

”Jadi ini sudah praktik global, bukan lagi lokal dan regional. Ini dilakukan oleh Shell, Total, dan BP di luar negeri. Hampir semuanya,” imbuh Ali.

Karena itulah, Ali mempertanyakan, alasan penolakan SPBU swasta di Tanah Air terhadap BBM impor Pertamina. Terlebih, penolakan dilakukan dengan alasan mengandung etanol 3,5%.

Padahal, kata Ali, angka tersebut jauh di bawah kandungan etanol di luar negeri dan tentu saja aman untuk mesin kendaraan bermotor. Apalagi, mesin mobil terbaru dirancang untuk menggunakan bahan bakar lebih ramah lingkungan.

Ali mempertanyakan penolakan SPBU swasta terhadap BBM impor Pertamina. Jika alasan mayor, artinya BBM yang dijual SPBU swasta bisa merusak mesin. Adapun alasan minor berarti SPBU swasta hanya mencari alasan.

Ali berharap masyarakat juga teredukasi dengan baik. Apalagi, di era media sosial seperti sekarang. “Prinsipnya, apa yang mereka pahami, termasuk soal etanol di BBM, belum tentu benar,” pungkas Ali.

 Sebelumnya, Vivo dan BP-AKR yang telah sepakat membeli BBM impor dari Pertamina, memang rencana tersebut. Alasannya, BBM murni Pertamina mengandung etanol 3,5%.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 57 detik yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 30 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia