Diversifikasi Usaha, Emiten Dana Brata Incar Bisnis Energi Terbarukan
JAKARTA - Emiten yang bergerak di jasa penunjang tambang, PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) berencana melakukan diversifikasi usaha di bidang energi terbarukan (EBT). Hal ini seiring dengan pengalihan pemanfaatan sumber energi berbasis fosil ke energi hijau di beberapa negara, termasuk di Indonesia.
"Kami melihat opportunity yang besar pada bisnis wood pellet atau pelet kayu yang merupakan salah satu jenis bahan bakar alternatif terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan kami sedang dalam penjajakan untuk masuk ke bisnis itu,” ujar Chief Financial Officer Dana Brata Luhur Yudo Wijayanto, Jumat (1/10).
Bisnis pellet kayu ini, diyakininya amat prospektif, apalagi permintaannya baik dari dalam dan luar negeri terutama Korea Selatan dan Eropa sangatlah tinggi. Untuk menggarap bisnis ini, TEBE sambungnya akan bekerjasama dengan Perum Kehutanan Negara Indonesia (Perhutani). Selain itu, perseroan juga tidak menutup kemungkinan akan bekerjasama dengan beberapa pihak.
"Kalau dengan Perhutani, saat ini masih dalam proses dan mungkin tahun depan sudah mulai proses feasibility study. Kemudian, perseroan juga tengah menjajaki kerjasama dengan perusahaan yang mempunya konsesi di bahan baku pelet kayu. Nanti itu, kita mulai dari penananam pohonya, pengolahan dan sampai jadi,” katanya.
Lebih lanjut, Yudo meyakini Perusahaan bergerak di bidang aktivitas konsultasi manajemen termasuk penyertaan dalam proyek atau perusahaan infrastruktur, perdagangan besar, konstruksi dan industri pengolahan dapat mencatat kinerja yang cemerlang pada tahun ini. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya permintaan dan kenaikan harga batu bara.
Hingga akhir tahun 2021, Yudo pun optimistis bahwa perseroan mampu mencatat loading atau volume pengangkutan (barging) mencapai 5 juta ton batu bara. Angka ini revisi keatas dari target awal hanya 3 juta ton batu bara. "Kami optimis target ini akan tercapai, mengingat pencapaian di kuartal II tahun ini saja sudah sekitar nyaris 3 juta ton," sebut dia.
Seiring dengan meningkatnya target loading tersebut, Yudo menambahkan, perseroan juga merevisi ke atas target pendapatan usaha, laba kotor, laba operasi, termasuk laba bersih TEBE hingga akhir tahun ini.
"Kami yakin pendapatan usaha perseroan akan meningkat menjadi sebesar Rp 298 miliar, laba kotor sebesar Rp 125 miliar, laba operasi Rp 89 miliar, dan kami juga optimis laba bersih hingga akhir tahun ini akan sekitar Rp 80 miliar," pungkasnya.
Atas dasar itulah, TEBE membagikan dividen interim sebesar Rp 6,42 miliar atau sekitar Rp 5 per saham. Dividen tersebut rencananya akan dibayarkan pada 28 Oktober 2021.
”Kinerja keuangan TEBE sangat baik, sudah sewajarnya kami memberikan apresiasi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Ini juga bentuk komitmen perusahaan terhadap pemegang saham yang sudah mempercayai TEBE," ucap Yudo.
Per Juni 2021, TEBE membukukan pendapatan Rp 141,51 miliar, naik dari Rp 89,34 miliar per Juni 2020. Laba bersih perseroan mencapai Rp 40,15 miliar, rebound dari sebelumnya rugi bersih Rp 17,7 miliar.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler

