Kamis, 14 Mei 2026

IPB Kembangkan Sorgum untuk Bioetanol

Penulis : Antara
2 Mar 2011 | 19:11 WIB
BAGIKAN

JAKARTA - Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan galur sorgum yang unggul untuk dimanfaatkan sebagai bioetanol, bahan bakar nabati pengganti bensin.

"Kami masih dalam proses pemuliaan sorgum dengan sistem persilangan di generasi ke-5, dari sekitar 150 galur telah menjadi 105 galur," kata Dosen Agronomi dan Hortikultura IPB Dr Ningkoesoemaningtyas di sela seminar `Sorghum, Technology Development from Research to Industry" di Jakarta, Rabu.

Ia berharap hasil persilangan akhir dari sorgum varietas Numbu yang telah dilepas Kementerian Pertanian dengan berbagai varietas sorgum lainnya akan menghasilkan 2-3 varietas unggul yang sangat sesuai untuk bahan baku bioetanol.

Varietas Numbu, selain biji-bijiannya bisa menjadi pangan pokok pengganti beras, batangnya memiliki kandungan gula yang tinggi yang baik dimanfaatkan sebagai bioetanol. Kementan telah melepas sejumlah varietas sorgum yakni Numbu, Kawali, Higari, serta Mandau.

"Saya berharap varietas sorgum kami nantinya bisa menghasilkan 2.000 liter per hektare per sekali tanam yang berarti mengalahkan singkong. Sekarang ini produktivitas sorgum menghasilkan bioetanol baru 1.200 liter per hektare per sekali tanam," katanya.

Menurut dia, bioetanol yang berasal dari singkong, jagung atau tebu tidak menarik, karena pemanfaatan singkong, jagung atau tebu sebagai bioenergi menyebabkan harga pangan meroket.

Sedangkan bioetanol dari tanaman sorgum berasal dari batangnya yang tak berguna, meskipun batang sorgum sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi.

”Batang sorgum tersebut diperas menjadi nira dan difermentasi menjadi alkohol, seperti halnya tebu,” jelasnya.

Berbeda dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang mencari galur unggul sorgum dengan cara iradiasi yang bertujuan untuk meningkatkan keanekaragaman galur dengan mutasi genetik, ia menggunakan cara konvensional dengan persilangan tanaman.

Kelebihan sorgum, urainya, sangat toleran di lahan kering, bersifat masam, dan berkadar garam tinggi sehingga dengan menanam sorgum berarti memanfaatkan jutaan hektare lahan marjinal terlantar yang tersebar di berbagai provinsi. (tk/ant)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 28 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 60 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia