Mimpi Tanpa Eksekusi adalah Halusinasi
Ingin sukses? Bermimpilah setinggi mungkin. Tapi jangan lupa mengeksekusinya. Mimpi-mimpi harus dibangun, disusun, dan ditata sebaik mungkin. Namun eksekusilah yang akan menentukan apakah sebuah mimpi bisa diwujudkan, atau akhirnya kandas, luruh, layu sebelum berkembang.
“Great dream harus disusun, direncanakan dengan baik (good plan) dan dieksekusi secara paripurna (excellence execution). Sebab mimpi tanpa eksekusi hanyalah halusinasi,” kata Chief Executive Officer (CEO) Toll Road Business Group Astra Infra, Kris Ade Sudiyono kepada wartawati Investor Daily, Indah Handayani di Jakarta, baru-baru ini.
Kris adalah eksekutor mimpi jempolan. Ia menjalani masa muda yang tidak mudah. Pria kelahiran Wanareja, Cilacap, Jawa Tengah ini berasal dari keluarga buruh tani. Dapat bersekolah saja sudah sangat disyukurinya. Akibat keterbatasan ekonomi, orang tua Kris tidak memberinya banyak pengalaman untuk melihat dunia dan peradaban lain.
“Orang tua saya hanya mampu membiarkan saya bermain layangan, membaca komik di taman bacaan kampung, atau sebatas bermain sepak bola di sawah berlumpur dengan sedikit perkelahian untuk mengakhirinya. Exposure saya ndeso, jauh dari hiruk-pikuk gemerlap peradaban metropolitan, apalagi pengalaman luar negeri,” tutur Kris.
Lalu, apa mimpi besar Kris Ade Sudiyono? Mimpinya sungguh mulia, yakni bermanfaat dan menjadi berkat bagi orang lain. Mimpi yang tidak mudah diwujudkan, tentu saja. Apalagi dengan keterbatasan ekonomi yang mengimpitnya.
Namun, keterbatasan tak membuat mimpi Kris padam. Mimpi-mimpi itu terus berkobar dalam hatinya, menggerakkan seluruh daya dan kemauannya. “Saya menyadari, satu-satunya cara mengubah hidup adalah melalui pendidikan,” tegas dia.
Kemauan keras ditunjukkan Kris muda dengan menempuh pendidikan jauh dari kampung halamannya. Dengan dukungan berbagai yayasan dan institusi pemberi beasiswa, dia berhasil meraih gelar sarjana pada 1992 dari Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.
Itulah titik awal perjalanan karier Kris Ade Sudiyono, hingga akhirnya ia malang-melintang di berbagai perusahaan dan dipercaya menempati berbagai jabatan strategis, termasuk menjadi CEO Toll Road Business Group Astra Infra.
Kini, setelah berhasil meraih mimpi-mimpinya, Kris Ade Sudiyono semakin mafhum bahwa pendidikan sejatinya adalah belajar mengerti serta memahami dunia dan peradabannya, kemudian beradaptasi dengan yang terjadi di sekelilingnya. “Jadi, semua harus diawali dengan kemauan untuk belajar dan terus bermimpi,” tandas dia.
Sambil terkekeh, Kris mengutip lagu Laskar Pelangi, “Mimpi adalah kunci menaklukkan dunia. Berlarilah tanpa lelah, sampai engkau meraihnya. Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga.”
Jalan hidup Kris rupanya memiliki banyak kesamaan dengan Laskar Pelangi, novel Andrea Hirata yang sangat populer dan pernah diangkat ke layar lebar. “Jalan hidup saya berwarna seperti pelangi, lahir di kampung kecil hingga dipercaya memangku berbagai tanggung jawab strategis. Ini semua anugerah, saya mensyukuri dan menikmatinya,” ujar dia.
Kris Ade Sudiyono mengajak generasi muda berani bermimpi dan mewujudkannya lewat kerja keras. “Tak cuma mimpi, kemauan untuk terus ikhtiar harus ada. Saya mengalaminya sendiri. Inspirasi ini tidak hanya untuk lingkungan terdekat saja, tapi juga untuk semua generasi muda yang sedang belajar ilmu dan pengalaman hidup,” papar dia. Berikut penuturan lengkapnya:
Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Saya menjalani masa kecil yang tidak mudah. Saya berasal dari keluarga buruh tani di desa. Dapat bersekolah saja sudah sangat saya syukuri.
Orang tua saya hanya mampu membiarkan saya bermain layangan, membaca komik di taman bacaan kampung, atau sebatas bermain sepak bola di sawah berlumpur dengan sedikit perkelahian untuk mengakhirinya. Exposure saya ndeso, jauh dari hiruk-pikuk gemerlap peradaban metropolitan, apalagi pengalaman luar negeri.
Saya sadar, satu-satunya cara mengubah hidup adalah melalui pendidikan. Jadi, semua harus diawali dengan kemauan untuk belajar dan terus bermimpi.
Dengan dukungan berbagai yayasan dan institusi pemberi beasiswa, saya akhirnya bisa kuliah Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Saya berhasil lulus sarjana pada 1992.
Setelah itu, saya mulai terjun ke dunia kerja, menjadi bagian keluarga besar PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (Telkom). Di sela kesibukan bekerja, saya melanjutkan pendidikan pascasarjana, Magister Manajemen, di Universitas Sumatera Utara (USU-Medan), selesai pada 2002.
Pada 2004, saya bergabung dengan kelompok usaha Astra sebagai General Manager PT Indonesia Network, Chief of Business Development PT Astratel Nusantara, dan Presiden Direktur PT Trans Bumi Serbaraja pada 2016-2018.
Pada periode ini, saya mewujudkan mimpi saya, yaitu memperoleh gelar doktor bidang manajemen di Universitas Bina Nusantara (Binus) pada 2017.
Saat ini, selain sebagai CEO Toll Road Business Group Astra Infra dan Direktur PT Astra Tol Nusantara, saya dipercaya menjabat sebagai Presiden Direktur PT Marga Mandalasakti, PT Indonesia Network, dan PT Transutama Arya Sejahtera.
Juga sebagai Komisaris di PT Marga Trans Nusantara, PT Marga Harjaya Infrastruktur, PT Baskhara Utama Sedaya, dan PT Lintas Marga Sedaya. Jabatan lainnya adalah Presiden Komisaris di PT Astra Astari Sejahtera, PT Astari Marga Sarana, dan PT Marga Lingkar Jakarta. Di organisasi profesi, saya dipercaya menjadi Sekjen Asosiasi Jalan Tol Indonesia (AJTI) periode 2018-2023.
Bagaimana dengan mimpi Anda di perusahaan?
Dalam bisnis, saya diajari untuk memikirkan cara berkembang dengan memiliki mimpi yang besar. Tak jauh dengan kehidupan pribadi, great dream harus disusun, direncanakan dengan baik (good plan), dan dieksekusi secara paripurna (excellence execution).
Mimpi tanpa eksekusi hanyalah halusinasi. Saya sampaikan ke teman-teman bahwa kita harus bermimpi besar, tapi berikhtiar juga harus giat. Akan sangat menyakitkan kalau kita hanya berbicara dan tidak berbuat, apalagi disampaikannya dari tempat persembunyian yang nyaman.
Berikhtiarlah. Jika ada yang belum dimengerti, cari dan pelajarilah. Menikmati dan belajar dari perjalanan adalah kunci kita memahami sesuatu. Itu inspirasi hidup yang saya alami.
Gaya kepemimpinan Anda?
Kepemimpinan harus hadir karena terkait dengan relationship human being, relasi yang dipimpin dan yang memimpinnya, yang notabene keduanya adalah orang. Namun, ini bukan terkait power atau kekuasaan dan kedudukan.
Saya mengomunikasikannya dengan istilah silaturahmi yang sehat dan produktif. Menjadi leader yang efektif adalah menjadi pribadi yang mampu bersilaturahmi secara sehat dan produktif dengan semua unsur lingkungan di sekitarnya. Salah satu caranya adalah selalu hadir menjadi sahabat, menjadi mentor dan coach, serta menjadi resources bagi tim di sekitarnya.
Contoh keberhasilan leadership Anda di Astra Infra?
Keberhasilan Astra Infra bisa diukur dari dua perspektif. Pertama dalam hal portfolio management untuk unit-unit bisnis. Indikator sukses untuk perspektif ini adalah apakah semua unit bisnis sudah beroperasi secara excellent.
Untuk Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), misalnya, kami harus beroperasi menenuhi standar pelayanan minimum (SPM) dalam hal kualitas layanan alat produksi, ketersediaan dan kesiapan sarana dan prasarana penunjang, serta pemenuhan standar layanan lainnya yang dipersyaratkan oleh pihak regulator.
Kami juga menginisiasi berbagai kegiatan strategis untuk mencapai dan mempertahankan kinerja bisnis berkelanjutan, baik melalui berbagai program business value creation dan inovasi, maupun melaui berbagai program kepedulian lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik.
Unsur kedua adalah dalam perspektif asset atau portfolio development. Upaya ini dilakukan dengan mengakuisisi dan menginisiasi proyek-proyek baru agar bisa terus tumbuh dan berkembang.
Kami terus menambah investasi dalam bentuk partisipasi kepemilikan saham di beberapa ruas jalan tol baru serta aktif berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Kami terus terbuka menganalisis berbagai peluang bisnis di sektor pelabuhan, bisnis dan eksosistem di industri bandara, dan lain sebagainya.
Kedua strategi ini merupakan ejawantah dari strategi ambidextrous. Pada saat bersamaan, kami terus mengembangkan portofolio di sektor infrastruktur lainnya.
Kedua strategi ini dijalankan bersamaan?
Ini saya sebut seperti filosofi tukang sate. Artinya, tangan kanan dan tangan kiri terus berjalan berdampingan secara produktif pada saat bersamaan. Tangan kiri menggerakkan kipas, tangan kanan membolak-balikkan sate.
Kondisi bisnis jalan tol di masa pandemi seperti apa?
Industri jalan tol terbilang tahan banting atau resilient. Industri ini mampu kembali mencatatkan kinerja baik di masa pandemi Covid-19, meski sempat mengalami penurunan lalu lintas harian rata-rata (LHR) selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kebijakan Masyarakat (PPKM) Level I.
Pencapaian lalu lintas harian rata-rata secara industri pada 2021 terus membaik, meski belum kembali ke sebelum pandemi Covid. Kinerja yang sama terjadi pada proses pembangunan jalan tol. Terus berlanjutnya proses pembangunan di lapangan merupakan kontribusi BUJT menggulirkan roda perekonomian di tengah masyarakat.
Pelaksanaannya memang tidak mudah. Banyak kendala yang dihadapi, seperti aspek keselamatan para pekerja konstruksi yang harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat serta hambatan dalam penyediaan lahan akibat tidak efektifnya diskusi publik pada proses pembebasan tanah dengan masyarakat. Juga pada aspek pendanaan akibat risiko tambahan yang menyebabkan kreditor perlu melakukan mitigasi ulang, sehingga financial close proyek terhambat.
Apa yang dibutuhkan pelaku industri jalan tol?
Industri penyedia infrastruktur publik ini membutuhkan partisipasi dan dukungan semua pihak. Dari unsur pemerintah, tidak hanya Kementerian PUPR dan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), tapi juga Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupa insentif fiskal dan moneter, tingkat suku bunga yang lebih kompetitif, dan penurunan margin kredit minimal 50%. Dalam hal ini, dukungan di sektor perbankan sangat diperlukan.
Keterlibatan pemda juga dibutuhkan, seperti insentif pada kelancaran komunikasi pembebasan tanah, kemudahan perizinan proses konstruksi, relaksasi dan diskon pajak bumi dan bangunan (PBB), serta retribusi daerah.
Pembangunan jalan tol di Indonesia sudah dianggap berhasil?
Saya sangat senang karena pemerintah sangat mengerti kondisi ini. Dalam beberapa dekade, infrastruktur kita ketinggalan. Itu sebabnya, pemerintah sekarang menjadikan infrastruktur sebagai program prioritas dan unggulan.
Saat ini, jalan tol yang sudah terbangun dan beroperasi sekitar 2.400 km. Ini sebuah lompatan penyediaan infrastruktur konektivitas yang harus diapresiasi. Kita juga harus mengevaluasi manfaat dan benefit turunannya.
Setidaknya ada dua hal manfaat yang telah dirasakan saat ini. Pertama, orang menikmati jalan tol dengan user experience baru. Contohnya dari Jakarta ke Semarang yang tadinya 10 jam sekarang hanya 4-5 jam.
Kedua, masyarakat merasakan dampak positifnya. Sekarang muncul pusat-pusat ekonomi baru akibat adanya konektivitas, seperti kawasan industri dan pariwisata baru. Muaranya adalah aspek pembangunan ekonomi dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Jalan tol merupakan infrastruktur publik berkelanjutan, yang bukan hanya selesai ketika dibangun atau siap dioperasikan, tetapi harus dijaga sesuai usianya. Itu sebabnya, kami mengampanyekan penyediaan infrastuktur berkelanjutan.
Obsesi Anda ke depan?
Dalam tata cara hidup pribadi, ke depan saya ingin menjadi orang bebas, dalam arti memiliki dan membiarkan pemikiran bebas, tidak terbelenggu paradigma tertentu.
Saya tidak ingin terbelengu olah pikir sendiri, apalagi menyangkut reaksi pihak lain yang sangat jauh dari kendali saya. Saya sangat menyadari ketidakpastian mengenai hal ini. Karena itu, saya ingin mengembangkan fleksibilitas untuk bisa memenangkan diri menjadi orang bebas.
Saya berkeyakinan, orang yang berhasil memenangkan diri menjadi orang bebas dan bisa menikmati situasi tersebut adalah orang yang berhasil dalam perjalanan hidup yang sedang dilaluinya.****
Mengisi Waktu Luang dengan Berbagi
Kris Ade Sudiyono banyak menghabiskan waktu luangnya untuk berbagi pengalaman (sharing) serta mengajar di dua universitas di Jakarta, yaitu Program Binus Business School Universitas Bina Nusantara (Binus) dan Program Magister Manajemen Teknologi Universitas Multimedia Nusantara.
Rupanya, orang nomor satu di Toll Road Business Group Astra Infra ini ingin berkontribusi membantu proses edukasi anak-anak muda.
“Bukan mengajari, anak-anak muda kita sudah sangat pintar. Saya hanya ingin membantu mereka melihat dunia dari sisi yang lain, memahami dunia nyata dengan kondisi dan tata cara hidupnya. Istilah orang Jawa, tentang tata krama, sopan santun, tentang memberi nilainya,” papar dia.
Dalam pandangan Kris, merupakan tanggung jawab para senior untuk membantu kaum muda meraih mimpi mereka. Caranya adalah mendampingi mereka, terus mengobarkan semangat dan kemauannya, memberi ruang untuk penghargaan terhadap jiwa bebasnya, dan memberikan landasan kuat dengan nilai-nilai yang baik.
Kris melakukan semua itu berdasarkan pengalamannya sebagai anak desa yang akhirnya bisa mencapai posisi sekarang. “Saya mengalaminya. Pendidikan adalah solusi untuk mengembangkan generasi kita. Karenanya, saya berani memberikan testimoni ini,” tutur dia.
Bagi Kris, keberhasilan seseorang pada akhirnya ditentukan masing-masing individu. “Semua berpulang kepada kita sendiri, apakah mau terus belajar melukisi hidup kita menjadi pelangi yang berwarna indah, atau justru sebaliknya membiarkannya menjadi ruang kosong berdebu,” kata dia. (iin)
Biodata
Nama: Kris Ade Sudiyono.
Tempat lahir/tahun: Cilacap, 1968.
Status: menikah, dua anak.
Pendidikan:
- Doktor di bidang manajemen Universitas Bina Nusantara Jakarta (Binus University) – 2017.
- Magister Manajemen (MM) Universitas Sumatera Utara (USU) Medan – 2002.
- S1 Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya – 1992.
Karier:
- CEO Toll Road Business Astra Infra Group (2019 – sekarang).
- Chief of Business Development PT Astra Tol Nusantara (2016 – 2018).
- Presiden Direktur PT Trans Bumi Serbaraja (2016 – 2018).
- Presiden Direktur PT Marga Mandalasakti (sekarang).
- Presiden Direktur PT Transutama Arya Sejahtera (sekarang).
- Presiden Direktur PT Indonesia Network (sekarang).
- Presiden Komisaris PT Astra Astari Sejahtera (sekarang).
- Presiden Komisaris PT Astari Marga Sarana (sekarang).
- Komisaris PT Marga Harjaya Infrastruktur (sekarang).
- Komisaris PT Marga Trans Nusantara (sekarang).
- Komisaris PT Baskhara Utama Sedaya (sekarang).
Organisasi:
- Sekjen Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI): 2018 – sekarang.
- Associated Faculty Member, Binus University dan Universitas Multimedia Nusantara: sekarang.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler

