Mandala Finance Berencana Terbitkan Obligasi Rp 650 Miliar
JAKARTA, investor.id - PT Mandala Multifinance Tbk (Mandala Finance) berencana menerbitkan obligasi berkelanjutan Tahap IV Tahun 2021 senilai Rp 650 miliar. Sebagian dana yang diperoleh bakal digunakan untuk pelunasan obligasi sebelumnya dan sebagian lainnya untuk modal kerja baru.
Rencana penerbitan obligasi itu bagian dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) IV Mandala Finance dengan target dana sebesar Rp 1,5 triliun. Perseroan telah menerbitkan PUB obligasi tahap I-III dengan nilai masing-masing sebesar Rp 150 miliar dan Rp 315 di tahun 2020, Rp 315 miliar, serta sebesar Rp 300 miliar di tahun 2021.
Penerbitan obligasi kali ini ditawarkan dalam dua seri. Seri A memiliki jumlah pokok sebesar Rp 300 miliar, tingkat bunga tetap sebesar 8,35% dengan tenor 367 hari. Sedangkan Seri B ditawarkan dengan nilai pokok Rp 350 miliar, berikut tingkat bunga tetap 9,25% dengan tenor tiga tahun.
"Sebesar Rp 300 miliar akan dipergunakan untuk pelunasan seluruhnya utang pokok Obligasi Berkelanjutan IV Mandala Multifinance Tahap II Tahun 2020 Seri A yang akan jatuh tempo pada tanggal 14 Desember 2021, dimana pelunasan tersebut tidak termasuk bunga," tulis Manajemen Mandala Finance dalam informasi tambahan ringkas yang diterbitkan di kanal Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (15/11).
Manajemen perseroan menambahkan, sisa dana akan dipergunakan untuk modal kerja, seperti ditentukan oleh izin yang dimiliki Mandala Finance berdasarkan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku
Dalam rangka penerbitan obligasi ini, perseroan telah memperoleh hasil pemeringkatan atas surat utang jangka panjang yakni idA (Single A) oleh PT Pemeringkatan Efek Indonesia (Pefindo). Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi adalah PT Sucor Sekuritas dan wali amanat adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Masa penawaran umum dari PUB IV obligasi Tahap IV Tahun 2021 itu pada 25, 26, dan 29 November 2021. Adapun tanggal penjatahan yaitu pada 1 Desember 2021, diikuti distribusi obligasi secara elektronik pada 3 Desember 2021. Sedangkan pencatatan di BEI pada 6 Desember 2021.
Ikhtisar data keuangan yang ditampilkan Mandala Finance memaparkan jumlah aset sampai September 2021 mencapai Rp 4,96 triliun, naik 17,82% year to date (ytd). Kenaikan total aset ini terutama disebabkan karena meningkatnya jumlah piutang pembiayaan konsumen dikarenakan adanya peningkatan jumlah pembiayaan baru di tahun 2021.
Sedangkan liabilitas perseroan pada September 2021 adalah Rp 2,35 triliun atau naik sebesar 25,75% (ytd) dibandingkan dengan akhir 2020 yang sebesar Rp 1,87. Peningkatan liabilitas dipengaruhi adanya penambahan utang sukuk mudharabah yang diterbitkan untuk peningkatan modal kerja. Maka ekuitas tercatat sebesar Rp 2,60 atau tumbuh 11,46% (ytd) karena adanya penambahan perolehan laba bersih perusahaan selama periode berjalan.
Pada saat yang sama, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 317,87 miliar atau tumbuh 80,31% year on year (yoy) dibandingkan September 2020. Adapun gearing ratio terjaga di level 0,78 kali, non performing financing (NPF) 2,67% dengan NPF atas pembiayaan direstrukturisasi yakni 1,14%.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler


