Kuartal I, Fintech Lending Salurkan Pinjaman Rp 56,70 Triliun
"Kami berharap dan yakin bahwa industri p2p lending akan terus bertumbuh pada 2023 dan tahun-tahun berikutnya mengingat kebutuhan akan pendanaan/pembiayaan di Indonesia masih sangat luas dan belum dapat dipenuhi secara keseluruhan oleh lembaga jasa keuangan yang ada," jelas Ogi.
Baca juga: Segar Kumala (BUAH) Usulkan Rasio Dividen 53%
Dalam hal ini, kata dia, OJK mendorong fintech lending untuk bekerja sama dan saling berkolaborasi dengan sektor perbankan, industri jasa keuangan (IJK) lainnya, maupun non-lembaga jasa keuangan lainnya. Dengan perbankan dan IJK lainnya, OJK mendorong melalui POJK 10/2022 di mana terdapat porsi pendanaan yang lebih besar sampai dengan 75% apabila pemberi dananya merupakan pelaku usaha jasa keuangan yang diawasi OJK.
Mengacu data OJK, sudah ada sebanyak 1.057 rekening lembaga jasa keuangan yang bertindak sebagai pemberi pinjaman (lenders) per Maret 2023, meningkat pesat dibandingkan Desember 2022 dimana baru sebanyak 690 rekening lenders. Seiring peningkatan jumlah rekening, jumlah pinjaman yang didanai LJK juga meningkat 24,27% (yoy) menjadi Rp 4,87 triliun.
"OJK akan memonitor dan mengawal perkembangan industri p2p lending agar tetap tumbuh secara berkelanjutan dan stabil," tegas Ogi.
Di kesempatan terpisah, Direktur Pengawasan Financial Technology OJK Tris Yulianta menerangkan, potensi layanan pendanaan di Indonesia masih sangat besar. Hadirnya layanan fintech lending atau Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) sudah menjadi mesin penggerak penyaluran dana pinjaman di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Kuartal I, Laba Jasa Armada (IPCM) Naik 25%
"Saat ini terdapat 102 penyelenggara fintech p2p lending yang terus bertumbuh dan dapat menjadi alternatif sumber pendanaan bagi masyarakat. OJK terus mendorong p2p lending untuk meningkatkan porsi penyaluran pendanaan kepada sektor produktif," ujar Tris dalam seminar yang digelar Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan Taralite, Jumat (5/5/2023).
Dorong Literasi
Meskipun tren industri fintech lending cenderung positif, hal ini belum berbanding lurus dengan tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. Salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat di lapangan adalah rendahnya literasi finansial masyarakat serta akses terhadap pendanaan yang belum merata.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






