Menkeu Purbaya Soroti NIM Perbankan RI: Tertinggi di Dunia dan Akhirat
JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan kritik tajam terhadap struktur perbankan nasional yang dinilai masih mempertahankan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) terlalu tinggi. Purbaya menyebut kondisi ini sebagai persoalan struktural yang telah mengakar selama puluhan tahun di Indonesia.
Purbaya menyoroti lambatnya transmisi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) ke tingkat bunga kredit perbankan. Ia bahkan menggunakan istilah satire untuk menggambarkan besarnya margin keuntungan bank di tanah air.
“Ini kan masalah di perbankan kita sudah mungkin 30 tahun, 40 tahun seperti ini. Di mana net interest margin kita besar, tertinggi di dunia dan akhirat,” ujar Purbaya Dalam acara economic outlook di Graha CIMB Niaga, Jakarta, baru-baru ini, yang disambut gelak tawa para peserta acara.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2025 mencatat rata-rata NIM industri perbankan berada di level 4,56%. Meski sedikit menurun dari tahun sebelumnya, angka ini masih jauh di atas negara maju seperti Amerika Serikat (2–3%) atau Australia (2%). Bahkan, sejumlah bank besar di Indonesia masih menikmati NIM di kisaran 5–6%.
Baca Juga:
Perbankan Perkuat Manajemen RisikoPurbaya menilai tingginya NIM ini disebabkan oleh struktur pasar perbankan Indonesia yang cenderung oligopoli. Kondisi tersebut membuat dorongan untuk menurunkan suku bunga kredit menjadi sangat lambat meski kebijakan moneter sudah melonggar.
“Kalau saya lihat sebagai ekonom ya, struktur perbankan kita cenderung oligopoli. Ya harusnya bank sentral yang ngatur itu. Saya enggak tahu gimana caranya. Tapi harusnya ada cara untuk menurunkan seperti itu,” sebutnya.
Kendati demikian, Purbaya mengakui mulai melihat adanya perbaikan arah ekonomi setelah BI menurunkan suku bunga acuan. Ia menekankan bahwa dampak kebijakan moneter memang tidak bisa dirasakan secara instan oleh sektor riil.
“Yang jelas gini, kebijakan moneter ke sektor riil, ke perbankan itu ada delay. Saya enggak tahu bisa berapa lama delay-nya. Tapi kalau ke ekonomi, saya lihat walaupun perbankan yang mengatur bunga, empat bulan itu sudah kelihatan perbaikan arah ekonominya gara-gara bank sentral menurunkan bunga,” jelas Menkeu.
Guna mendukung tren penurunan suku bunga lebih lanjut, Purbaya berkomitmen memastikan ketersediaan likuiditas di pasar tetap terjaga. Ia menjelaskan bahwa perputaran uang dari program pembangunan pemerintah akan kembali menyuplai sistem perbankan.
“Kita pastikan likuiditas cukup di pasar. Jadi harusnya ruang ke arah bunga yang lebih rendah akan terbuka lagi,” pungkas Purbaya.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






