Banjir di Lebak akibat Hutan Rusak di Hulu
LEBAK - Pengamat banjir Iman Rismahayadin mengatakan, banjir yang melanda sejumlah daerah di Provinsi Banten, Jumat (13/1) hingga Minggu (14/1) akibat kerusakan hutan di daerah hulu yakni Kabupaten Lebak dan Pandeglang.
"Setiap hari ribuan kubik kayu ditebang dari kawasan hulu dan diangkut ke berbagai daerah untuk dijadikan bahan bangunan maupun peralatan rumah tangga. Itu terjadi kerusakan hutan," kata Iman Rismahayadi di Rangkasbitung, Senin.
Ia mengatakan, kerusakan hutan di kawasan hulu Kabupaten Lebak dan Pandeglang akibat adanya kegiatan penebangan liar di hutan milik Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), hutan lindung dan hutan masyarakat.
Selain itu juga penebangan pohon yang dilakukan Perum Perhutani. Perum Perhutani, kata dia, setiap tahun mengusulkan rencana penebangan tahunan kepada pemerintah daerah.
Saat ini, kata dia, kerusakan kawasan hutan konservasi TNGHS sangat memperihatinkan, selain maraknya penebangan pohon juga adanya kegiatan penambangan emas liar.
Penambangan emas liar di kawasan TNGHS tentu bisa merusak ekosistem juga daerah resapan air.
Penyebab lainnya, lanjut dia, penebangan yang dilakukan masyarakat tidak sebanding dengan penanaman.
Bencana banjir di wilayah Provinsi Banten akan terus terjadi akibat kerusakan hutan di kawasan hulu itu.
Selama ini, lanjut dia, kawasan hulu sebagai sumber air ke sejumlah sungai utama, seperti Ciujung, Ciberang, Cisimeut, Cidurian, Ciliman, Cibinuangeun, Cimadur, dan Cimoyan.
Kemungkinan banjir yang melanda wilayah Provinsi Banten selama beberapa hari itu disebabkan meluapnya sungai tersebut.
"Banjir yang terjadi itu akibat berkurangnya resapan air karena kerusakan hutan dan ditambah adanya konversi perkebunan PT Nusantara VIII dari tanaman karet ke kelapa sawit," katanya.
Untuk mencegah banjir, kata dia, pemerintah harus melakukan pengendalian lingkungan dengan melaksanakan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan (GRHL).
Selain itu juga pengawasan dari petugas TNGHS agar tidak terjadi penebangan liar. Begitu pula Perum Perhutani tidak melakukan penebangan pohon yang sudah produksi secara besar-besaran. (ant/gor)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler

