Gunung Es Terbesar Lepas di Antartika
PARIS, investor.id - Gunung es terbesar di dunia dilaporkan telah terlepas dari lapisan es di Antartika dan mengapung di Laut Weddell. Hal ini dikatakan Badan Antariksa Eropa (ESA).
Gunung es tersebut dinamai A-76 dan bentuknya seperti pulau Manhattan di New York, Amerika Serikat (AS) tetapi 70-an kali lebih besar.
Gambar patahan gunung es tersebut diambil dari satelit. "Saat ini adalah gunung es terbesar di dunia," kata ESA, Rabu (20/5).
Gunung es tersebut memiliki panjang sekitar 170 kilometer (km) dan lebar 25 km, dengan luas 4.320 km persegi. Berati sedikit lebih besar dari Pulau Mayorka di Spanyol.
Bongkahan es tersebut memisahkan diri dari sisi barat Lapisan Es Ronne. Pada awalnya ditemukan oleh Survei Antartika Inggris dan dikonfirmasi menggunakan gambar dari Satelit Copernicus.
Statusnya sebagai gunung es terbesar mengambil tempat gunung es A-23A, berukuran sekitar 3.880 km persegi, yang juga berada di Laut Weddell.
Pada November tahun lalu, gunung es terbesar di dunia tampaknya berada di jalur yang bertabrakan dengan pulau terpencil di Atlantik Selatan yang menjadi rumah bagi ribuan penguin dan anjing laut. Patahan tersebut mengancam menghalangi kemampuan hewan di sana untuk mengumpulkan makanan.
Gunung es, yang dikenal sebagai A68a itu, juga terpecah dari Lapisan Es Larsen, yang menghangat lebih cepat dari bagian lain benua paling selatan Bumi yang meleleh sebelumnya.
A68a, memiliki panjang 160 km dan lebar 48 km, pecah sebelum menyebabkan kerusakan ke satwa liar yang melimpah di Wilayah Seberang Laut Inggris, Georgia Selatan.
Suhu permukaan rata-rata bumi telah naik satu derajat Celcius sejak abad ke-19, cukup untuk meningkatkan intensitas kekeringan, gelombang panas, dan siklon tropis. Tetapi udara di atas Antartika telah menghangat lebih dari dua kali lipatnya.
Bongkahan utama Lapisan Es Larsen Peninsula, yang stabil selama lebih dari 10.000 tahun, hancur dalam beberapa hari pada 1995 dan lagi pada 2002. Ini diikuti oleh pecahnya Lapisan Es Wilkins di dekatnya pada 2008 dan 2009.
Sebuah proses yang dikenal sebagai hydrofracturing kemungkinan merupakan penyebab utama dalam kedua kasus tersebut, ditunjukkan dalam penelitian sebelumnya.
Hydrofracturing terjadi ketika air, yang lebih berat dari es, mengalir melalui retakan di permukaan lapisan es yang disebabkan oleh pemanasan permukaan, dengan keras memaksa retakan terbuka, menyebabkan gunung es pecah.
Gunung es secara tradisional dinamai berdasarkan kuadran Antartika tempat mereka awalnya terdeteksi, kemudian diberi nomor urut.
Jika lebih banyak yang terpecah, huruf akan ditambahkan untuk membedakan fragmen.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler

