Kamis, 14 Mei 2026

AS Sanksi Jaringan Pengirim Minyak Iran ke China

Penulis : Grace El Dora
12 Mei 2026 | 20:37 WIB
BAGIKAN
Lembaga penyiaran Pemerintah Iran, TV IRIB pada 10 Oktober 2019 merilis gambar kapal tanker minyak mentah Iran, Sabiti, sedang berlayar di Laut Merah. Kapal tanker minyak Iran, Sabiti, diduga dihantam serangan rudal di dekat pelabuhan Jeddah, Arab Saudi sehingga menyebabkan minyak bocor ke Laut Merah. National Iranian Tanker Company mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa lambung kapal Sabiti dihantam dua ledakan terpisah sekitar 100 kilometer di lepas pantai Saudi. (Foto: AFP)
Lembaga penyiaran Pemerintah Iran, TV IRIB pada 10 Oktober 2019 merilis gambar kapal tanker minyak mentah Iran, Sabiti, sedang berlayar di Laut Merah. Kapal tanker minyak Iran, Sabiti, diduga dihantam serangan rudal di dekat pelabuhan Jeddah, Arab Saudi sehingga menyebabkan minyak bocor ke Laut Merah. National Iranian Tanker Company mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa lambung kapal Sabiti dihantam dua ledakan terpisah sekitar 100 kilometer di lepas pantai Saudi. (Foto: AFP)

WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan langkah tegas untuk memutus urat nadi keuangan Iran. PIhaknya secara resmi mengumumkan sanksi terhadap tiga individu dan sembilan perusahaan yang terbukti membantu pengiriman minyak Iran ke China.

Departemen Keuangan AS mengungkapkan jaringan yang terkena sanksi ini tersebar di beberapa negara, lapor Reuters, Selasa (12/5/2026). Dari sembilan perusahaan tersebut, empat berbasis di Hong Kong, empat di Uni Emirat Arab (UEA), dan satu perusahaan lainnya berlokasi di Oman.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari sanksi serupa yang dijatuhkan pada pekan lalu terhadap pihak-pihak yang membantu Iran membeli komponen senjata, termasuk suku cadang untuk pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik.

Memutus Pendanaan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC)

ADVERTISEMENT

Sanksi yang dijatuhkan oleh Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) ini secara khusus membidik entitas yang membantu Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjual minyak jatah mereka ke China. Jaringan ini diketahui menggunakan serangkaian perusahaan cangkang (front companies) untuk menyamarkan transaksi dan pengiriman.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan, pemerintahan Trump akan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran.

"Departemen Keuangan akan terus memutus akses rezim Iran dari jaringan keuangan yang mereka gunakan untuk melakukan tindakan terorisme dan mengganggu stabilitas ekonomi global," ujar Bessent.

Menurut otoritas AS, IRGC yang telah dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh AS bergantung pada perusahaan bayangan untuk mengatur dan menerima pembayaran dari penjualan minyak internasional.

Tekanan Menjelang Pertemuan Trump-Xi Jinping

Pengumuman sanksi ini muncul hanya beberapa hari sebelum pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Dalam pertemuan tersebut, Trump diperkirakan akan mendesak China untuk membantu menyelesaikan kebuntuan dengan Iran, termasuk upaya pembukaan kembali Selat Hormuz yang sangat krusial bagi perdagangan dunia.

Tindakan terbaru ini juga memperluas sanksi yang pernah dijatuhkan pada Juli 2025 terhadap Golden Globe. Perusahaan yang berbasis di Turki ini yang disebut mengelola penjualan minyak IRGC senilai ratusan juta dolar setiap tahun.

Ketegangan antara AS dan Iran telah lama berpusat pada upaya Washington untuk menghentikan program nuklir dan aktivitas militer Iran dengan cara melumpuhkan sumber pendapatan utamanya: ekspor minyak mentah. China, sebagai importir minyak terbesar di dunia, sering kali menjadi tujuan utama minyak Iran meskipun adanya sanksi internasional.

Penggunaan perusahaan cangkang di pusat keuangan seperti Hong Kong dan Uni Emirat Arab menjadi taktik yang umum digunakan untuk menghindari deteksi sistem perbankan global.

Dengan menjatuhkan sanksi pada entitas di negara-negara pihak ketiga ini, pemerintah AS bertujuan untuk menciptakan semacam efek jera bagi perusahaan internasional lainnya agar tidak terlibat dalam perdagangan dengan Iran. Ini juga sekaligus memperkuat posisi tawar AS dalam negosiasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 30 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 40 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 41 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 52 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia