Kamis, 14 Mei 2026

Demam AI, China Raup US$ 500 Juta per Jam dari Ekspor Teknologi

Penulis : Grace El Dora
12 Mei 2026 | 23:35 WIB
BAGIKAN
Terminal Kontainer Internasional Yantian di Shenzhen, China, merupakan pusat utama perdagangan global.
Terminal Kontainer Internasional Yantian di Shenzhen, China, merupakan pusat utama perdagangan global.

BEIJING, investor.id – Meski hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan China terus merenggang, kedua raksasa ekonomi ini ternyata masih "menyusu" pada sumber kekuatan yang sama yakni Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/ AI). Ledakan permintaan global terhadap teknologi AI telah memicu lonjakan ekspor China hingga mencapai angka yang fantastis.

Laporan dari Goldman Sachs dan Nomura Holdings mengestimasi hampir setengah dari pertumbuhan ekspor China pada April 2026 disumbang oleh produk semikonduktor, komputer, dan perangkat terkait AI.

Secara total, pengiriman barang China ke luar negeri melonjak 14% dibandingkan tahun lalu, menyentuh rekor bulanan sebesar US$ 359 miliar. Jika dirata-rata, perusahaan-perusahaan di Negeri Tirai Bambu tersebut meraup sekitar US$500 juta (sekitar Rp 7,9 triliun) setiap jamnya, seperti dikutip Bloomberg internasional, Selasa (12/5/2026).

Data bea cukai terbaru menunjukkan ekspor chip melonjak drastis hingga 100%, perangkat data otomatis termasuk laptop dan tablet, naik 47%, sedangkan impor teknologi tinggi China juga meningkatkan pembelian produk teknologi asing sebesar 42%.

ADVERTISEMENT

Simbiose yang Rumit dengan AS

Menariknya, gairah investasi ini juga didorong oleh kebijakan Presiden Donald Trump yang dijadwalkan tiba di Beijing pekan ini untuk bertemu Xi Jinping. Perusahaan teknologi raksasa AS seperti Alphabet (Google) dan Meta Platforms berencana mengucurkan dana hingga US$ 725 miliar tahun ini, terutama untuk pembangunan pusat data AI yang komponennya banyak dipasok dari Asia.

Meskipun "perceraian ekonomi" terus berlangsung melalui pembatasan teknologi dan sanksi, rantai pasok global rupanya masih mengikat kedua negara ini dengan sangat kuat. China kini muncul sebagai pemasok barang terkait AI terbesar di dunia, meskipun mereka masih bergantung pada impor untuk teknologi kritis seperti chip kelas atas.

Di tengah lesunya pasar domestik dan meroketnya harga bahan bakar akibat konflik di Iran, China menemukan peluang lain. Ekspor kendaraan, terutama mobil listrik (EV), melonjak 54% dalam empat bulan pertama tahun 2026. Nilai ekspor otomotif pada April mencapai lebih dari US$16 miliar, tertinggi kedua dalam sejarah.

Namun, tidak semua sektor cerah. Sementara eksportir chip berpesta, rakyat China secara umum menanggung beban kenaikan harga minyak dan gas. Volume impor minyak mentah turun 20% meskipun nilainya naik 13%, mencerminkan lonjakan harga energi global yang mencekik.

Masa Depan yang Masih Dibayangi Bottle Neck

Ekonom ANZ Banking Group Raymond Yeung menilai prospek ekspor China dalam jangka pendek tetap positif. Namun, tantangan jangka panjang tetap ada pada kemampuan China mengatasi "botol leher" teknologi, khususnya dalam memproduksi chip presisi tinggi secara mandiri.

Ketegangan perdagangan antara AS dan China telah berlangsung selama hampir satu dekade, dimulai dari perang tarif hingga pembatasan akses terhadap teknologi semikonduktor canggih. AS berupaya membatasi kemampuan China untuk mendapatkan teknologi militer sensitif, sementara China membalas dengan membatasi ekspor mineral tanah jarang (rare earths) yang penting bagi industri teknologi AS.

Gencatan senjata teknis sempat disepakati pada Oktober 2026, di mana AS menangguhkan beberapa pembatasan sebagai imbalan atas akses kembali ke mineral tanah jarang. Namun, dominasi China kini bergeser ke arah legacy chips (chip teknologi lama namun esensial) dan perangkat keras AI.

Ketergantungan dunia pada manufaktur China, dipadukan dengan kebutuhan mendesak akan infrastruktur AI, membuat pemutusan hubungan ekonomi (decoupling) total antara kedua negara tersebut menjadi misi yang hampir mustahil dilakukan tanpa mengganggu kestabilan ekonomi global.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 29 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 39 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 40 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 51 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia