Kamis, 14 Mei 2026

Ageng Kiwi Gaet ‘Kembang Desa’ Jadi Pemain Sinetron, Tayang di SCTV

Penulis : Gora Kunjana
23 Jun 2018 | 23:23 WIB
BAGIKAN

Enaknya jadi artis serba bisa. Salah satunya adalah Ageng Kiwi. Selain memiliki kemampuan menciptakan lagu dan menyanyi, ia piawai berakting dan juga kerap dipercaya menjadi pembawa acara (presenter).

Oleh Rumah Produksi Sinemart, pencipta lagu ‘Asik Asik Ser’ dan ‘Badut-Badut Kota’ ini, dipercaya memerankan tokoh Pakde Slamet dalam sinetron Seleb yang sudah mulai tayang di SCTV, setiap hari mulai pukul 17.00 WIB.

“Sebenarnya aku hidupnya ngalir saja. Kalau dibilang serba bisa, selama mau mencoba dan mau belajar insya Allah bisa,” ujar Ageng Kiwi, kepada galamedianews.com, saat ditemui di lokasi syuting sinetron Seleb di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, belum lama ini.

Selain Ageng Kiwi, sinetron bergenre drama percintaan remaja ini, dibintangi para artis ternama, antara lain, Rizky Nazar, Megan Domani, Cassandra Lee, Sultan Djorghi, dan puluhan artis lainnya. Sinetron ini menggantikan tayangan Ramadan di SCTV, “Tiada Hari yang Tak Indah” dan mengisi slot jam tayang yang sama.

Ageng mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari sinetron yang tayang prime time di televisi berkelas. Menurutnya, pemain sinetron itu jumlahnya ratusan, mungkin ribuan. Untuk mendapatkan peran sesuai karakter itu, tidak gampang. Dipilih dari ratusan orang yang diseleksi dengan ketat, supaya pemerannya itu benar-benar sesuai karakter.

“Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari produksi ini. Merasa nyaman banget mainin karakterku. Beradu akting dengan para pemain produktif dan hits,” ujar pemeran Pakde Slamet, dalam sinetron yang ceritanya digarap penulis kenamaan Imam Tantowi ini.

Soal perannya, Ageng bercerita, Pakde Slamet, adalah crew produksi sinetron yang bertugas sebagai PU (Pembantu Umum). Pakde Slamet adalah sosok yang sangat berjasa terhadap karir Sukilah (diperankan artis Megan Domani). Seorang gadis lugu yang dibawa Pakde Slamet dari desa, kemudian menjadi artis papan atas di Ibukota.

“Ceritanya dalam sebuah produksi sinetron, Sukilah hanya pemain figuran, numpang lewat. Tapi karena pemain utama wanitanya telat datang, sutradara mendapuknya jadi peran utama. Maka berubahlah nasib Sukilah yang kemudian jadi artis ternama bernama La Suki,” cerita Ageng.

Ageng menyadari bahwa suguhan satuan mata acara di televisi semakin kompetitif. Rating (satuan ukuran mata acara) seakan menjadi ’hidup-mati’ stasiun televisi, yang berdampak pada nilai ekonomis penyedia program. Semakin tinggi rating, semakin banyak pemasang iklan. Harga jual slot TV Commercial pun semakin mahal. Ini berarti semakin besar pemasukan.

“Cerita sinetron ini menarik, real story, bukan mengada-ada. Saya yakin dapat diterima masyarakat penonton sinetron Indonesia. Banyak variabel pendukung, antara lain, pemain bintang, Televisi nomor satu, Rumah Produksi berpengalaman, serta tim produksi yang solid. Insya Allah sinetron ini booming, amiin,” harap pemilik akun instagram, @Ageng_kiwi_real, dan @Agengkiwi_ ini. (gor)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Macroeconomy 2 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 31 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia