Dirikan Jakarta Ear and Haearing Center, RS Mitra Keluarga Gandeng Kasoem Hearing Center
JAKARTA,investor.id-Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga Kelapa Gading menjalin kerja sama dengan Kasoem Hearing Center untuk mendirikan Jakarta Ear and Hearing Center, fasilitas kesehatan pendengaran pertama dan terlengkap di Indonesia. Fasilitas ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan pelayanan terhadap kesehatan pendengaran di Indonesia.
Direktur RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Dr. Ronald Reagan mengatakan, kerja sama ini bertujuan untuk mengembangkan layanan kesehatan pendengaran yang holistik dan komprehensif, sehingga mampu menjangkau seluruh masyarakat Indonesia untuk mendapatkan kesehatan pendengaran.
“Hari ini menandai titik tolak baru dalam pelayanan kesehatan pendengaran di Indonesia. Kami berharap Jakarta Ear and Hearing Center akan menjadi model pelayanan kesehatan yang memadukan kenyamanan dan kualitas tinggi untuk semua lapisan masyarakat,” kata Reagan di Jakarta, Kamis (11/1/2024).
Baca Juga:
Kemenkes dan Empat Rumah Sakit Gandeng Siemens Healthineers Tingkatkan Teknologi Layanan KesehatanSementara, Deputy CEO Kasoem Hearing Center Trista Mutia Kasoem menuturkan, kerja sama ini menjadi langkah besar dari program yang sebelumnya memang dijalankan Kasoem Hearing Center selama hampir 30 tahun berdiri di Indonesia.
Dengan Jakarta Ear and Hearing Center, harapannya dapat memenuhi kebutuhan terkait pemeriksaan gangguan pendengaran mulai dari screening pendengaran, diagnosa, fitting alat bantu dengar, operasi cochlear implant hingga habilitasi pendengaran.
“Kolaborasi ini adalah wujud nyata dari dedikasi kami untuk meningkatkan kualitas hidup melalui pelayanan pendengaran yang optimal," ujar Trista.
Trista menambahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 5% penduduk dunia mengalami gangguan pendengaran. Menurut dia, Indonesia yang memiliki lebih dari 270 juta jiwa penduduk tidak terlepas dari gangguan tersebut, khususnya pada anak-anak.
"Gangguan pendengaran jika tidak ditangani dengan baik sejak dini, nanti saat dewasa akan susah dalam bersosialisasi, psikologi emosionalnya terganggu. Sementara pendengaran anak krusial sebagai pondasi dalam mendengar dan berbicara," tambah Trista.
Kerja sama ini didukung oleh Cochlear, alat bantu dengar terkemuka asal Australia, IA-CEPA ECP Katalis (Katalis) sebagai program pengembangan perdagangan dan investasi untuk membuka potensi besar kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Australia, serta Komisi Perdagangan dan Investasi Australia (Austrade).
Tak hanya itu, Jakarta Ear and Hearing Center akan menjadi pusat layanan yang menyediakan layanan lengkap untuk gangguan pendengaran, meliputi pemeriksaan pendengaran pada bayi baru lahir, tes pendengaran orang dewasa, diagnosis, intervensi dini, pemasangan alat bantu dengar, operasi implan koklea, dan terapi auditory verbal. Mulai dari deteksi dini hingga pemulihan, semuanya dalam satu lokasi yang nyaman dan terjangkau.
Editor: Emanuel
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler

