Jurus Sri Mulyani Mendongkrak Tax Ratio
JAKARTA, investor.id – Pemerintah terus melakukan sejumlah pembenahan untuk meningkatkan rasio perpajakan atau tax ratio. Upaya ini dilakukan dengan melakukan reformasi struktural agar meningkatkan kemudahan dalam administrasi perpajakan.
“Kami terus melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki tax ratio, baik itu dari sisi perbaikan administrasi dalam perpajakan dan ini termasuk juga langkah deregulasi,” ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2025 pada Kamis (24/4/2025).
Saat pandemi Covid-19, tahun 2019, 2020, dan 2021, rasio pajak turun karena banyak industri yang tidak berjalan. Bila dilihat selama tiga tahun beruntun, dari tahun 2019 sampai 2021, rasio perpajakan secara berurutan yaitu 9,77%; 8,33%; dan 9,12%.
Rasio pajak meningkat pada 2022 menjadi sebesar 10,39%. Tetapi kembali menurun pada 2023 di posisi 10,31%. Hingga Oktober 2024 rasio perpajakan tercatat sebesar 10,02% dari PDB.
Sri Mulyani bilang, untuk meningkatkan rasio pajak, Kementerian Keuangan telah menerapkan Sistem Inti Administrasi Perpajakan (Core Tax Administration System/CTAS) atau yang juga dikenal sebagai Coretax. Layanan ini dipercaya dapat meningkatkan kemudahan pelayanan bagi wajib pajak. Pada saat yang sama. Kemenkeu menyederhanakan proses restitusi pajak dan melakukan percepatan pemeriksaan pajak.
“Untuk kepabeanan penetapan nilai pabean dengan menggunakan valuasi price range, sehingga bisa memberikan kepastian menghapus kuota impor untuk menyederhanakan tata kelola impor,” terang Sri Mulyani.
Pemerintah juga menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan kemampuan dalam merekam transaksi secara lebih akurat. Dengan begitu, pemerintah bisa memberikan kepastian dari sisi pelaksanaan peraturan perpajakan.
Di sisi lain, Kemenkeu melakukan reformasi untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarakat. Dengan adanya reformasi juga meningkatkan kepastian dan penyederhanaan sehingga mendorong kepatuhan (compliance) yang lebih tinggi. Di saat sama, pemerintah juga melakukan ekstensifikasi terhadap sumber-sumber penerimaan potensial tetapi selama ini belum bisa menjadi sumber penerimaan secara memadai.
“Hal itu kami lakukan dengan berbagai kerjasama dengan K/L (Kementerian/Lembaga) lain, apakah itu sektor perikanan atau sektor-sektor lain pertambangan yang termasuk illegal mining, illegal logging, illegal fishing,” kata Sri Mulyani.
Kemenkeu berinvestasi untuk pengadaan peralatan Hi-co scan x-ray system sehingga akan memberikan percepatan pelayanan. Dengan adanya investasi ini akan meningkatkan keamanan dan penjagaan Indonesia dari kemungkinan bahaya lalu lintas barang.
“Juga berbagai kebijakan dan administrasi di sektor perpajakan yang akan terus diharmonisasikan,” terang Sri Mulyani.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






