Kamis, 14 Mei 2026

Apindo Minta Pemerintah Tawar Lagi Tarif 19% ke AS

Penulis : Arnoldus Kristianus
18 Jul 2025 | 20:36 WIB
BAGIKAN
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani di kantor B-Universe, Tangerang, Selasa (15/7/2025). (B-Universe Photo/Addin Anugrah Siwi)
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani di kantor B-Universe, Tangerang, Selasa (15/7/2025). (B-Universe Photo/Addin Anugrah Siwi)

JAKARTA, investor.id – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berpendapat penerapan tarif bea masuk sebesar 19% dari Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor Indonesia jauh lebih baik dibandingkan proposal tarif awal sebesar 32%. Bahkan, mungkin saja masih ada ruang untuk bisa bernegosiasi menjadi lebih rendah lagi.

Jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, dengan perkembangan tarif saat ini posisi Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif. Tarif Indonesia saat ini (19%) lebih rendah dibandingkan posisi Thailand (36%), Laos (40%), Malaysia (25%), dan Vietnam (20%, dengan ketentuan tambahan untuk transshipment.

Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga daya saing ekspor, terutama pada produk ekspor kita seperti tekstil, alas kaki, furnitur, hingga perikanan yang memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap pasar Amerika Serikat. Namun demikian, sejumlah negara pesaing di kawasan saat ini masih dalam proses negosiasi dengan pemerintah AS.

ADVERTISEMENT

“Oleh karena itu, Apindo menilai perlu terus mencermati secara saksama posisi akhir kompetitor, yang bisa saja mengubah konstelasi persaingan kawasan dalam waktu dekat,” ucap Shinta pada Jumat (18/7/2025).

Shinta menambahkan, dalam kesepakatan ini, Indonesia berkomitmen meningkatkan impor sejumlah produk strategis dari Amerika Serikat, di mana sejumlah komoditas ini memang merupakan produk dan komoditas yang dibutuhkan bagi industri dalam negeri.

Apindo Minta Pemerintah Tawar Lagi Tarif 19% ke AS
Komoditas impor RI dari AS. (Ilustrasi: Investor Daily)

Hal tersebut sejalan dengan rekomendasi Apindo sebelumnya kepada pemerintah yaitu mendorong skenario mutually beneficial melalui peningkatan impor komoditas strategis dari AS, seperti kapas, jagung, produk dairy, kedelai, dan crude oil. Langkah ini dirancang sebagai reciprocal arrangement yang menjawab kekhawatiran AS soal defisit perdagangan.

“Di sisi lain, Apindo melihat untuk penghapusan tarif impor oleh Indonesia terhadap produk AS, secara umum sebagian besar produk tersebut saat ini memang sudah memiliki tarif rendah (0–5%). Meskipun demikian, Apindo akan melihat dan mendalami lagi dampaknya secara product by product dari hasil negosiasi yang ada,” terang Shinta.

Shinta mengatakan, Apindo dalam waktu dekat akan mengkonsolidasikan para pelaku usaha ekspor di lapangan yang terdampak untuk melakukan revieu sektoral terhadap dampak dari kebijakan tarif ini. Apindo juga tengah menyiapkan berbagai usulan mitigasi kepada pemerintah untuk memastikan transisi dan adaptasi industri berjalan efektif, termasuk mendorong peningkatan ekspor ke pasar non-tradisional serta percepatan agenda deregulasi nasional.

“Kami juga terus berkomunikasi dengan pemerintah yang saat ini masih merampungkan detail teknis dari kesepakatan tersebut. Sebagaimana diketahui, proses negosiasi dengan Pemerintah AS, khususnya di bawah kepemimpinan Trump, menuntut kewaspadaan tinggi karena kebijakan dapat berubah secara cepat dan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik domestik AS,” terang Shinta.

Apindo Minta Pemerintah Tawar Lagi Tarif 19% ke AS
Komoditas ekspor RI ke AS. (Ilustrasi: Investor Daily)

Dia turut memberikan catatan bahwa kemajuan diplomasi harus diiringi dengan pembenahan menyeluruh di dalam negeri. Daya saing ekspor Indonesia tidak hanya bergantung pada tarif, tetapi juga pada kepastian dan kemudahan berusaha, efisiensi logistik dan energi, serta kualitas regulasi dan infrastruktur yang menopang sektor industri.

Reformasi struktural, khususnya bagi industri padat karya, menjadi sangat krusial untuk memastikan ketahanan usaha dan penciptaan lapangan kerja di tengah tekanan global yang terus berlangsung.

“Bagi kami, keberhasilan Indonesia dalam menavigasi tekanan tarif AS dan memanfaatkan peluang IEU-CEPA akan sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Dalam semangat Indonesia Incorporated, Apindo berkomitmen mendampingi pelaku usaha agar tidak hanya siap secara administratif, tetapi juga siap secara kompetitif untuk menghadapi tantangan dan pasar global yang semakin dinamis,” tutur Shinta.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 10 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 40 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 51 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia