Kamis, 14 Mei 2026

BI Pede Rupiah Tinggal Menguat Saja, Paling Tidak Stabil

Penulis : Akmalal Hamdhi
13 Mei 2026 | 15:06 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). (Foto: Antara)
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). (Foto: Antara)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) percaya diri nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat setelah sempat menembus Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Optimisme itu didorong oleh fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat di tengah tekanan global.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, bank sentral terus memperkuat tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tersebut dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing hingga menjaga kepercayaan investor terhadap aset keuangan domestik.

“Oleh sebab itu, sebagaimana yang disampaikan Pak Gubernur, BI sangat menyadari kondisi ini sehingga BI terus menguatkan tujuh langkah strategis Bank Indonesia dalam membuat rupiah stabil dan cenderung menguat,” ujar Denny kepada awak media di Kantor BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Denny, keyakinan BI terhadap penguatan rupiah didasarkan pada kondisi ekonomi nasional yang masih solid. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, inflasi yang terkendali, pengelolaan utang luar negeri yang prudent, serta prospek ekonomi domestik yang masih positif.

Ia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tetap berada dalam jalur yang baik. Di sisi lain, tingkat inflasi nasional juga dinilai lebih stabil dibandingkan sejumlah negara lain.

“Kami tetap meyakini dengan langkah-langkah yang dilakukan, rupiah akan stabil dan cenderung menguat karena fundamental ekonomi Indonesia sangat baik dibandingkan dengan negara-negara lain,” katanya.

BI juga memastikan akan terus hadir di pasar keuangan domestik maupun global untuk menjaga stabilitas rupiah. Setelah perdagangan di pasar Jakarta berakhir, BI tetap melakukan pemantauan di pasar Eropa hingga Amerika Serikat guna mengantisipasi tekanan dari transaksi non-deliverable forward (NDF) terhadap rupiah di pasar offshore.

BI Pede Rupiah Tinggal Menguat Saja, Paling Tidak Stabil
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sedekade. (Ilustrasi: Investor Daily)

Selain itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

“Kami meyakini bahwa dengan sinergi bersama BI, kementerian, dan lembaga itu mampu membuat rupiah stabil dan juga segera menguat. Karena tidak ada alasan untuk rupiah tidak menguat atau tidak stabil,” tutur Denny.

Meski demikian, BI mengakui pelemahan rupiah saat ini masih dipengaruhi tekanan eksternal dan domestik. Dari sisi global, konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia lebih dari 40% sejak akhir Februari 2026. Kondisi itu memicu penguatan dolar AS di pasar global.

Tekanan juga datang dari kebijakan suku bunga AS. Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun kini mendekati 4,5%, meningkat dari sekitar 4% pada akhir Februari, disertai penguatan indeks dolar AS.

BI Pede Rupiah Tinggal Menguat Saja, Paling Tidak Stabil
Pergerakan nilai tukar rupiah hingga 12 Mei 2026. (Ilustrasi: Investor Daily)

Sementara dari dalam negeri, permintaan dolar AS meningkat seiring musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan valuta asing untuk musim haji. Faktor-faktor tersebut memberi tekanan tambahan terhadap rupiah dalam jangka pendek.

Mengutip Bloomberg pada Rabu (13/5/2026) pukul 14.55 WIB, nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.475 per dolar AS atau menguat 53 poin sebesar 0,30% dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp 17.528 per dolar AS.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 28 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 37 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 38 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 49 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia