Kamis, 14 Mei 2026

Eagle High Ekspansi Pabrik di Kalbar dan Papua

Penulis : Gora Kunjana
17 Jun 2016 | 14:37 WIB
BAGIKAN

JAKARTA – PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) menyiapkan dana senilai Rp 450 miliar untuk membiayai pembangunan dua pabrik kelapa sawit (PKS) di Kalimantan Barat dan Papua. Kedua pabrik ini akan menaikkan kapasitas produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) menjadi 2,8 juta ton per tahun pada 2017.


Sekretaris Perusahaan Eagle High Plantation Rudy Suhendra mengatakan, kapasitas produksi pabrik di Kalbar dan Papua ditargetkan masing-masing 45 ton per jam dan dapat ditingkatkan hingga 90 ton per jam.

ADVERTISEMENT


“Pabrik di Kalbar sebetulnya sudah dibangun sejak 2015 dan diperkirakan beroperasi pada kuartal IV-2016, sementara pengoperasian pabrik di Papua ditargetkan tahun depan,” jelas dia usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakata, Kamis (16/5).


Saat ini, perseroan yang memiliki mayoritas perkebunan di Kalimantan tersebut telah mempunyai tujuh PKS dan empat lokasi penyimpanan. Total kapasitas pabrik mencapai 385 ton per jam atau 2,3 juta ton per tahun. Tahun lalu, perseroan berhasil memmproduksi tandan buah segar dari perkebunan perseroan mencapai 1,42 juta ton dan produksi CPO mencapai 350.578 ton. “Ekspansi di Papua juga bertujuan untuk membantu ekonomi daerah di wilayah tersebut,” terang dia.


Dana ekspansi pabrik berasal dari anggaran belanja modal (capital expenditure/ capex) sekitar Rp 400-500 miliar. Sebanyak Rp 250 miliar capex akan diserap untuk pembangunan PKS baru dan sisanya pengembangan lahan tanaman. Per Maret 2016, perseroan telah menyerap 25% capex.


“Sumber dana ekspansi pabrik di Kalbar akan berasal dari belanja operasional, berbeda dengan pembangunan pabrik di Papua yang sebagian besar 70%-80% dari pembiayaan perbankan,” kata Rudy.


Beban Utang

Perseroan, kata Rudy, memastikan kemampuan untuk mendanai ekspansi dan pembayaran utang jatuh tempo. Pendanaan bersumber dari kas internal dan pinjaman bank. Sedangkan, rencana penjualan 37% saham perseroan berikut rencana penggunaan dana dari hasil penjualan tersebut akan diserahkan kepada PT Rajawali Corpora, selaku pemegang saham perseroan.


Sementara itu, Direktur Utama Eagle High Nicolaas B Tirtadinata mengatakan, pihaknya belum mengetahui apakah Rajawali Corpora akan menggunakan hasil transaksi penjualan saham untuk membantu perseroan melunasi utang atau mendanai ekspansi.


“Duit hasil transakasi sepenuhnya di tangan pemegang saham. Karena level transaksi memang di level share holder,” terang dia.


Per Maret 2016, total aset Eagle High mencapai Rp16,44 triliun, turun 6,91% dari Rp17,66 triliun pada akhir 2015, dan utang perseroan mencapai Rp 9,85 triliun pada kaurtal I-2016, turun dari Rp 11,01 triliun pada akhir 2015.


Berdasarkan catatan Investor Daily, sejak Felda Global Ventures Holdings Bhd (FGV) mengumumkan rencana akuisisi 37% saham Eagle High dari Rajawali senilai US$ 680 juta pada Juni 2015, target kesepakatan tersebut terus meleset dari rencana semula.


Grup Felda dan Rajawali sempat melakukan kesepakatan ulang terkait proses akusisi Eagle High pada Desember 2015. Grup Felda memastikan tetap berminat mengakuisisi 37% saham Eagle High. Namun, pengambilalihan sebagian besar saham itu akan dilakukan Felda Investment Corp.


Sementara itu, FGV berpotensi hanya menyerap kurang dari 10%, dari target saham yang akan diakuisisi. (rid)


Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Macroeconomy 2 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 31 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia