Kamis, 14 Mei 2026

Japfa Comfeed di Tengah Peluang Kenaikan Harga Bahan Baku

Penulis : Parluhutan Situmorang
16 Mar 2021 | 10:26 WIB
BAGIKAN
Peternakan ayam Japfa Comfeed. Foto: DEFRIZAL
Peternakan ayam Japfa Comfeed. Foto: DEFRIZAL

JAKARTA, investor.id - Realisasi kinerja keuangan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) sepanjang 2020 jauh melampaui proyeksi sejumlah analis. Pencapaian tersebut terbantu lonjakan kinerja operasional pada kuartal terakhir tahun 2020. Namun kondisi berbeda diperkirakan terjadi tahun ini dipicu tren peningkatan harga pembelian bahan baku.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano mengatakan, dengan memasukkan akuisisi perusahaan di bidang pengelolaan daging ayam dan barang konsumsi, PT So Good Food (SGF), Japfa melaporkan raihan laba bersih senilai Rp 879 miliar pada kuartal IV-2020. Angka tersebut menunjukkan lonjakan 39% dari pencapaian periode sama tahun lalu.

“Lonjakan laba bersih tersebut dipengaruhi atas kuatnya pemulihan harga jual segmen DOC dan ayam pedaging ditambah adanya kontribusi So Good Food. Pemulihan yang kuat tersebut ditambah dengan adanya kontribusi SGF mampu untuk mengimbangi penurunan segmen pakan ternak. Realisasi tersebut telah melampaui target yang ditetatapkan BRI Danareksa Sekurtias dan konsensus analis,” terangnya.

Japfa Comfeed di Tengah Peluang Kenaikan Harga Bahan Baku
Harga saham JPFA dalam satu dekade terakhir

Kuatnya pemulihan laba bersih perseroan pada kuartal terakhir tahun 2020, menurut dia, tidak lepas dari berhasilnnya culling program pemerintah. Program tersebut berhasil menaikkan rata-rata harga jual DOC dan ayam pedaing, sehingga margin EBIT dari masing-masing segmen tersebut meningkat dari 9,2% dan -11,3% pada kuartal III-2020 menjadi 21,6% dan 14,6% pada kuartal IV-2020.

ADVERTISEMENT

Meski demikian volume penjualan DOC masih melanjutkan penurunan mencapai 12% sepanjang 2020. Sedangkan volume penjualan ayam pedaging meningkat 17% pada periode sama.

Tahun lalu, Japfa membukukan penurunan pendapatan sebesar 5% dari Rp 38,87 triliun menjadi Rp 36,96 triliun. Sedangkan beban pokok penjualan juga menunjukkan penurunan 5% dari Rp 31 triliun menjadi Rp 29,53 triliun. Namun demikian laba bersih perseroan anjlok 32% dari Rp 1,34 triliun menjadi Rp 1,13 triliun.

“Realisasi pendapatan tersebut setara dengan 111% dari target yang ditetapkan BRI Danareksa Sekurtias dan setara dengan 107% dari perkiraan konsensus analis. Sedangkan perolehan laba bersih tersebut merefleksikan 256% dari target Danareksa Sekuritas dan 248% dari perkiraan consensus analis,” ungkapnya.

Terkait perkiraan kinerja keuangan tahun 2021, dia mengatakan, meskipun seluruh segmen bisnis mencatatkan peningkatan kinerja,

Japfa Comfeed di Tengah Peluang Kenaikan Harga Bahan Baku
Salah satu kegiatan di Pabrik Japfa. Foto: IST

Japfa diperkirakan menghadapi tekanan margin keuntungan, meski harga jual seluruh produk cendeurng naik. Margin kotor (gross margin) perseroan diproyeksikan turun menjadi 19,5%, dibandingkan perolehan tahun 2020 setiar 20,1%. Tekanan margin keuntungan dipicu atas ekspektasi peningkatan harga bahan baku jagung dan kedelai.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold saham JPFA dengan target harga direvisi naik dari Rp 1.350 menjadi Rp 1.700.

Kenaikan target harga tersebut mempertimbangkan lonjakan laba bersih perseroan pada kuartal akhir tahun lalu. Namun demikian, harga wajar JPFA saat ini sudah mencerminkan harga wajar.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 1,41 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 1,13 triliun. Pendapatan perseroan juga diproyeksikan melonjak dari Rp 36,96 triliun menjadi Rp 41,46 triliun tahun ini.

Japfa Comfeed di Tengah Peluang Kenaikan Harga Bahan Baku
Kinerja keuangan Japfa

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Emma A Fauni mengatakan, solidnya kinerja keuangan perseroan pada kuartal IV-2020 mendorong laba bersih perseroan melampaui target Mirae Asset Sekuritas dan konsensus analis.

Raihan tersebut juga ditopang atas peningkatan margin keuntungan bisnis peternakan yang menjadi penyumbang utama laba bersih perseroan.

“Realisasi keuntungan perseroan tahun lalu setara dengan 206% dari target yang kami tetapkan dan setara dengan 200% dari konsensus analis. Begitu juga dengan pendapatan telah merefleksikan 106% dari target Mirae Asset Sekuritas dan 107% dari perkiraan konsensus analis,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Japfa Comfeed di Tengah Peluang Kenaikan Harga Bahan Baku
Japfa Comfeed Indonesia. Sumber: BSTV

Pesatnya pertumbuhan kinerja keuangan pada kuartal IV- 2020 mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk merevisi naik target laba bersih tahun 2021 dari Rp 1,39 triliun menjadi Rp 1,58 triliun, seiring lonjakan laba bersih perseroan akhir tahun lalu. Begitu juga target pendapatan perseroan direvisi naik dari Rp 43,14 triliun menjadi Rp 44,04 triliun.

“Kami memperkirakan bahwa pemulihan industri peternakan ayam terus berlanjut yang diharapkan berimbas positif terhadap kinerja keuangan perseroan. Apalagi adanya dukung pemerintah melalui culling program,” terangnya.

Pertumbuhan pesat tersebut kinerja keuangan kuartal akhir tahun lalu ditambah revisi naik target kinerja keuangan mendorong Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham JPFA dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 2.500.

Target harga tersebut mempertimbangkan rasio PE JPFA sekitar 18 kali. Target harga tersebut juga menggambarkan bahwa harga JPFA saat ini masih terdiskon dibandingkan harga saham emiten peternakan ayam lainnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 3 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 32 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia