Merck akan Jadikan Pabriknya sebagai Pusat Produksi untuk Asia Tenggara
JAKARTA, investor.id – PT Merck Tbk (MERK) berencana menjadikan pabrik di Pasar Rebo, Jakarta, sebagai pusat produksi untuk Asia Tenggara pada tahun 2023 atau 2024. Aksi ini diharapkan bisa menggenjot kinerja ekspor perseroan.
Direktur Plant Merck Arryo Aritrixso Wachjuwidajat menjelaskan, rencana untuk menjadikan pabrik di Pasar Rebo sebagai pusat produksi merupakan target jangka menengah. “Kami harapkan pada 2023 atau 2024 bisa selesai," jelas dia dalam paparan publik secara virtual, Rabu (16/6).
Dalam menjadikan pabrik di Pasar Rebo sebagai pusat Asia Tenggara, perseroan akan memindahkan produksi sekitar 14 obat resep dari pabrik lain ke pabrik yang ada di Pasar Rebo. Adapun pada tahap pertama, pabrik akan fokus pada produksi obat-obat diabetes.
Selain itu, perseroan perlu melakukan transfer teknologi dan mendapatkan persetujuan dari otoritas kesehatan di negara tujuan. "Kami harapkan semuanya bisa berjalan lancar di tengah pandemi saat ini," terang Arryo.
Saat ini, perseroan belum bisa memprediksi seberapa besar pendapatan dan gross profit margin (GPM) yang bisa diperoleh setelah pengembangan pabrik selesai. Hal yang menjadi prioritas Merck adalah untuk memaksimalkan utilitas dan efisiensi pada 2024, ketika kerja sama Manufacturing Supply Agreement (MSA) dengan P&G berakhir pada 2025.
Untuk memaksimalkan efisiensi tersebut, perseroan sudah mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar 3,3 juta euro. Belanja modal tersebut berasal dari kas internal. "Belanja modal juga digunakan untuk modernisasi peremajaan fasilitas produksi dan otomasi digitalisasi produksi," tutur dia.
Lebih lanjut, Presiden Direktur Merck Evie Yulin mengatakan, pada 2020, perbandingan volume ekspor dan domestik mencapai 52% dan 48%. Kinerja positif ini memicu perseroan untuk melakukan ekspansi pabrik dari kapasitas terpasang 1,6 miliar tablet dan kapsul menjadi kapasitas 2 miliar tablet. Dengan ekspansi ini, perseroan menjadi produsen dan penyalur produk-produk Merck Group di Asia Tenggara.
Adapun untuk tahun ini, Direktur Keuangan Merck Bambang Nurcahyo mengungkapkan, perseroan berharap bisa meraih pertumbuhan pendapatan 3%. Sementara, laba bisa bertumbuh di atas 3%, seiring dengan pengelolaan yang lebih baik dari sisi biaya operasional.
Hingga kuartal I-2021, perseroan meraih pendapatan sebesar Rp 253 miliar, meningkat 56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 162 miliar. Laba meningkat 51% dari Rp 35 miliar menjadi Rp 53 miliar. Adapun kas dan setara kas pada kuartal I-2021 sebesar Rp 165 miliar, meningkat 22% dibanding per akhir Desember 2020 sebesar Rp 135 miliar.
“Perseroan tetap optimistis melanjutkan transformasi ke depannya dengan mempertahankan kinerja positif untuk mendukung kemajuan pemangku kepentingan," ujar Evie.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler

