Medco Energi (MEDC) Naikkan Produksi Migas Hingga 64%
JAKARTA, investor.id – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) akan menggenjot produksi minyak dan gas (migas) tahun ini hingga 64,89% menjadi 155 barel ekuivalen per hari (mboepd) dibanding tahun lalu 94 juta barel per hari. Jumlah tersebut naik dari target 2022 sebelumnya, yakni 95 juta barel per hari.
“Peningkatan target akan dikontribusi dari akuisisi Blok Corridor yang saat ini masuk dalam tahap penyelesaian,” kata VP Corporate Planning & Investor Relations Medco Energi Myrta S Utami kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.
Myrta menambahkan, peningkatan produksi juga sejalan dengan kondisi bisnis pada tahun ini yang sedang dibanjiri katalis positif dari naiknya harga komoditas dan energi. Dengan begitu, perseroan optimistis target yang ditentukan akan tercapai.
Untuk merealisasikan target tersebut, lanjut Myrta, Medco Energi telah menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 325 juta atau setara Rp 4,65 triliun. Penggunaan capex dibagi untuk dua keperluan, yakni sebesar US$ 275 juta pada bisnis perseroan di sektor minyak dan gas. Sedangkan sisanya, sebanyak US$ 50 juta akan digunakan sebagai modal kerja pada sektor power.
Myrta menambahkan, perseroan juga semakin dekat dalam penyelesaian akuisisi Blok Corridor. Akuisisi ini akan meningkatkan jumlah produksi migas perseroan pada 2022.
Medco Energi sebelumnya telah menandatangani kesepakatan untuk mengakuisisi seluruh saham yang diterbitkan Conoco Phillips Indonesia Holding Ltd (CIHL) dari Phillips International Investment Inc, yang merupakan anak usaha dari Conoco Phillips (COP). CIHL memegang 100% saham di Conoco Phillips (Grissik) Ltd (CPGL) dan 35% saham di Transasia Pipeline Company Pvt Ltd. CPGL adalah operator dari corridor PSC dengan kepemilikan 54% working interest. Transaksi ini diharapkan selesai pada kuartal I-2022.
Baca Juga:
Ekonomi Tahun 2022 Dihantui Harga EnergiCorridor PSC memiliki dua lapangan produksi minyak dan tujuh lapangan produksi gas berlokasi di onshore Sumatra Selatan. Mayoritas produksi adalah gas yang dijual melalui kontrak jangka panjang kepada para mitra yang andal di Indonesia dan Singapura. Melalui Transasia, Medco Energi akan memiliki saham minoritas pada jaringan pipa gas yang menyuplai pelanggan di Sumatera Tengah, Batam, dan Singapura. Setelah transaksi, proforma pedoman Medco Energi tahun 2022 untuk segmen migas adalah produksi 155 mboepd, belanja modal migas US$ 275 juta, dan biaya kas per unit di bawah US$ 10/boe.
CEO Medco Energi Roberto Lorato mengatakan, transaksi ini melanjutkan rekam jejak Medco Energi dalam memberikan nilai tambah melalui akuisisi dan sesuai dengan strategi perubahan iklim. Akuisisi ini akan makin memperkuat posisi Medco Energi di Asia Tenggara dan akan menghasilkan sinergi yang kuat dengan wilayah kerja perseroan di Sumatera.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler





