Keuangan Terus Membaik, PPA Sabet Pengakuan Dua Lembaga Pemeringkat Internasional
JAKARTA, investor.id - Kinerja keuangan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) yang terus membaik sepanjang tahun 2022 mendapatkan afirmasi dari dua lembaga pemeringkat internasional, yaitu S&P Global Ratings dan Fitch Ratings.
S&P Global Ratings dalam laporan riset yang dirilis Juli lalu meningkatkan rating outlook jangka panjang PPA menjadi ‘stabil’. Bersamaan dengan itu, S&P Global Ratings juga meningkatkan profil kredit mandiri (stand-alone credit profile/SACP) PPA serta menegaskan issuer credit ratings PPA dengan predikat ‘BB/B’.
Penguatan peringkat PPA merefleksikan peningkatan struktur permodalan PPA yang mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah. S&P Global Ratings menilai bahwa PPA memiliki basis permodalan yang kuat dengan pendekatan yang lebih berhati-hati terhadap pertumbuhan aset, meskipun ada tantangan ekonomi dari faktor eksternal. Manajemen PPA juga dinilai mampu mengendalikan volatilitas yang terjadi, bahkan mampu menginisiasi fase ekspansi yang sejalan dengan rencana transformasi perusahaan.
Dalam laporan terpisah, Fitch Ratings juga memberikan outlook stabil dan menaikkan SACP PPA karena adanya peningkatan profil keuangan perusahaan. Fitch Ratings juga memberikan penilaian ‘AA(idn)’ atas obligasi nasional yang diterbitkan PPA. Peringkat ‘AA’ menunjukkan tingkat risiko gagal bayar yang sangat rendah dibandingkan dengan emiten atau obligasi lainnya.
Fitch Ratings menilai status, kepemilikan, dan kontrol yang sangat kuat dari Pemerintah menjadi faktor penentu yang menunjukkan dukungan penuh terhadap PPA. Selain itu, PPA dinilai berada di lingkungan operasi yang stabil tanpa persaingan pasar yang signifikan.
“PPA telah melakukan sejumlah langkah strategis untuk menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan, mulai dari transformasi organisasi, penguatan struktur permodalan dan likuiditas, penyempurnaan proses bisnis, penguatan manajemen risiko, hingga perbaikan kualitas portfolio aset. Afirmasi dari S&P Global Ratings dan Fitch Ratings memberikan motivasi bagi kami untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kinerja perusahaan, sehingga dapat memberikan nilai dan dampak yang signifikan bagi negara,” kata Direktur Utama PPA Yadi Jaya Ruchandi dalam keterangan resmi, Kamis (4/8/2022).
Dalam laporannya, S&P Global Ratings juga menyoroti risiko yang dihadapi sektor perbankan tetap tinggi pasca pandemi, terutama setelah perpanjangan masa relaksasi restrukturisasi kredit perbankan berakhir pada 31 Maret 2023. Non-performing loan (NPL) diperkirakan akan tetap stabil di tahun 2022, namun terdapat loan at risk (LAR) yang berpotensi menjadi NPL dengan kisaran 1:10 sampai 1:8. Di tahun 2023, S&P memproyeksikan adanya peningkatan rasio NPL menjadi 5% setelah berakhirnya kebijakan relaksasi.
“PPA memiliki pengalaman dan rekam jejak dalam pengelolaan NPL perbankan di Indonesia. Solusi inventif dengan skema off-balance sheet yang sukses kami implementasikan dalam penyelesaian aset berkualitas rendah PT Bank Muamalat Indonesia Tbk diharapkan dapat memfasilitasi penyelesaian NPL bagi industri finansial secara luas,” ungkap Yadi.
Baca Juga:
PPA Raih 2 Penghargaan IFN AwardsBerdasarkan amanat yang diberikan Pemerintah, PPA memiliki peran sebagai instrumen strategis dalam mengoptimalisasi nilai dari aset-aset BUMN maupun ekosistem BUMN melalui tiga pilar bisnis utama, yaitu Restrukturisasi & Revitalisasi BUMN, Pengelolaan non-performing loan (NPL) Perbankan, serta solusi investasi Special Situations Fund (SSF).
PPA secara intensif menjalankan strategi turnaround atas sejumlah BUMN Titip Kelola melalui restrukturisasi dan memfokuskan kembali pada core business unggulan guna mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. PPA juga sedang menjajaki kerja sama dalam pengelolaan NPL dengan sejumlah bank. Dari pilar bisnis SSF, PPA telah melakukan sejumlah langkah strategis untuk mengoptimalisasi nilai dari ekosistem BUMN melalui solusi advisory dan investasi.
Per semester I-2022, PPA mencatatkan pertumbuhan laba usaha konsolidasi yang signifikan hingga 187% dibanding laba usaha periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy) dan kenaikan laba bersih sebesar 58% secara yoy.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler

