Kamis, 14 Mei 2026

Cerita Andre Soelistyo Bangun GoTo: Dari Investor ke Eksekutor

Penulis : Yurieke Metriani
2 Feb 2023 | 11:39 WIB
BAGIKAN
Andre Soelistyo CEO GoTo
Andre Soelistyo CEO GoTo

JAKARTA, investor.id - Kecintaannya untuk memecahkan masalah kompleks membuat CEO GoTo Andre Soelistyo kembali masuk ke dunia eksekutif dengan bergabung bersama Gojek setelah bertahun-tahun bekerja di Northstar Group, yang merupakan salah satu investor awal Gojek.

Awal mula ia menjadi investor dimulai ketika ia lulus kuliah dari University of Technology Sydney, Australia. Walau memiliki latar belakang pendidikan ilmu komputer, Andre mengaku tertarik untuk masuk ke bidang keuangan sejak lulus kuliah.

“Setelah lulus, saya kembali ke Indonesia dan sempat beberapa kali melamar sebagai investment banker, tapi selalu ditolak karena alasan latar belakang pendidikan yang tidak cocok,” kata Andre kepada Gita Wirjawan dalam siniar Endgame (31/1). 

Meski berkali-kali ditolak, ia tidak putus asa. Ia berusaha untuk mencari cara untuk memuaskan rasa penasarannya tentang dunia finansial. Setelah tiga tahun bekerja di bidang manufaktur di Triputra Group, ia kemudian bergabung dengan perusahaan private equity, Northstar Group, sebagai analis junior. 

ADVERTISEMENT

Lantaran tak berkaitan dengan latar belakang pendidikannya, Andre berusaha untuk belajar dengan cepat tentang akuntansi dan membangun financial model dengan bantuan rekan-rekannya. Walau sudah berhasil mencapai mimpinya untuk kerja di bidang finansial, Andre masih belum puas. 

“Saya menargetkan diri untuk bisa menjabat posisi direktur sebelum saya berusia 30 tahun,” ujarnya. Kegigihannya untuk terus belajar dan mengobservasi orang lain akhirnya berhasil membawa pria kelahiran 22 Juli 1983 ini menjabat sebagai direktur eksekutif di Northstar Group. 

Jabatan barunya membuat Andre lebih dipercaya oleh para pendiri perusahaan, Patrick Walujo dan Glenn Sugita, untuk memperluas portofolio Northstar. Ia pun membujuk Patrick untuk masuk ke sektor teknologi dengan memulai investasi di Kartuku, perusahaan penyedia layanan pembayaran besutan Niki Luhur. 

Di sinilah Andre mulai menjalin hubungan pertemanan dan profesional dengan founder Gojek Nadiem Makarim yang saat itu bekerja di Kartuku. Kala itu, Gojek masih sekadar proyek sampingan berbentuk social enterprise bagi Nadiem. 

“Saya jadi dekat dengan Nadiem dan mulai bertanya tentang rencana dia untuk Gojek di tengah pesatnya perkembangan teknologi smartphone dan upaya Uber untuk berekspansi ke berbagai negara. Kemudian, saya bilang ke Nadiem bahwa saya (dan Northstar) siap membantu dari sisi pendanaan untuk mengembangkan Gojek,” kenang Andre.

Northstar pun kemudian masuk sebagai investor awal Gojek melalui pendanaan seri A di akhir 2014 dan Andre pun terpilih untuk masuk sebagai anggota dewan perusahaan. Lama kelamaan, ia semakin memiliki "klik" dengan Gojek berkat perkembangan pesatnya yang membuat layanannya semakin ekspansif. 

Peran Andre yang awalnya hanya sebatas investor kemudian berubah menjadi eksekutor berkat ajakan Nadiem untuk bergabung di Gojek pada 2015. 

“Sejak bergabung sebagai anggota dewan, saya memang sering ikut membantu Nadiem. Rasanya tidak puas kalau saya hanya sebatas menganalisis keuangan Gojek di atas kertas dan tidak ikut terjun ke dalamnya,” papar pria yang senang menghabiskan waktu luangnya bermain Lego ini. 

Andre kemudian memulai kariernya di Gojek sebagai Chief Financial Officer berkat latar belakang keuangannya. Ia kemudian naik menjabat sebagai Presiden hingga akhirnya didapuk sebagai Co-CEO bersama Kevin Aluwi usai penunjukan Nadiem sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh Presiden Joko Widodo pada 2019 lalu. 

Pandemi COVID-19 yang melanda sejak 2020 menjadi berkat tersembunyi bagi Gojek. Pembatasan mobilitas justru membuat bisnis food delivery Gojek tumbuh pesat. Di sisi lain, penutupan pusat perbelanjaan juga membuat Tokopedia bertumbuh di masa pandemi.

Hal inilah yang membuat Andre, Kevin, founder Tokopedia William Tanuwijaya dan Presiden Tokopedia Patrick Cao memutuskan untuk mengkolaborasikan bisnisnya di bawah naungan GoTo. 

“Kami merasa layanan kami saling melengkapi. Jika kami bisa mengerjakannya bersama, we could be even bigger dan membuat posisi kami lebih kuat lagi,” kata Andre. 

Acara kumpul-kumpul Natal di tahun 2020 pun berubah menjadi kesepakatan kolaborasi antara Gojek dan Tokopedia. Para petinggi yang kelak memimpin GoTo ini pun bergerak cepat untuk mendapat restu dari para pemegang saham. Dalam waktu lima bulan, mereka pun berhasil merealisasikan pembentukan GoTo kemudian membawanya ke lantai bursa di April 2022. 

GoTo kini jadi salah satu perusahaan teknologi asal Indonesia yang dikenal di kancah internasional. Meski sudah dikenal baik oleh banyak orang di seluruh dunia, Andre tak ingin berhenti disitu. Ia ingin menjadikan GoTo sebagai warisan untuk Indonesia.

“Saya ingin GoTo dikenal sebagai perusahaan dari Indonesia yang mampu meraup keuntungan sambil memberikan dampak yang berarti bagi orang-orang di dalam ekosistemnya. Making profit while doing good,” kata Andre. 

Ia pun ingin GoTo bisa mencetak talenta digital terbaik bagi Indonesia. Ia bahkan berharap bahwa talenta tersebut mampu mendirikan perusahaan-perusahaan yang lebih besar dari GoTo di masa depan yang bisa menjadi warisan selanjutnya untuk Indonesia. 

Editor: Yurike Metriani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 3 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 32 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia