BW Plantation akan Akuisisi Perusahaan Perkebunan
JAKARTA – PT BW Plantation Tbk (BWPT) berencana mengakuisisi satu perusahaan perkebunan sawit. Dalam rencana akuisisi tersebut, BW Plantation akan melaksanakan penawaran umum terbatas (PUT) I dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue untuk menggalang dana.
Direktur Keuangan dan Corporate Secretary BW Plantation Kelik Irwantono mengatakan, perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) terkait rencana akuisisi dan rights issue tersebut pada 10 November 2014.
“Niat untuk akuisisi itu belum lama direncanakannya. Rencana tersebut dilakukan karena perseroan yakin tentang pentingnya melakukan konsolidasi usaha,” ucap Kelik kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (16/9). Dia melanjutkan, perseroan nantinya akan menjadi pemegang saham mayoritas dari perusahaan tersebut.
Apabila aksi korporasi tersebut telah disepakati oleh pemegang saham perseroan, rencananya BW Plantation mulai melaksanakan tahap cum dan ex rights issue di pasar regular dan negosiasi pada 17 dan 19 November 2014. Sedangkan cum dan ex rights issue pada pasar tunai akan dilaksankan pada 20 dan 21 November 2014.
Pelaksanaan distribusi rights issue dan pencatatan (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) rencananya bakal digelar pada 21 dan 24 November 2014. Kemudian, awal periode perdagangan dan pelaksanaan rights issue akan dilaksanakan pada 24 November 2014.
Sebelumnya, BW Plantation dikabarkan tengah menyiapkan dana hingga sebesar Rp 320 miliar untuk membuka lahan dan penanaman tanaman baru. Perseroan akan membuka lahan baru sebanyak 4.000 hektare (ha) sampai akhir tahun ini.
Kelik mengatakan, penanaman tanaman baru tersebut membutuhkan dana sebesar Rp 60 juta sampai Rp 80 juta per hektare. Dia mengungkapkan, perseroan melakukan penanaman tanaman baru hampir setiap tahun.
“Tahun lalu perseroan membuka lahan baru seluas 3.000 hektare,” ucap Kelik beberapa waktu lalu. Lebih lanjut dia mengatakan, perseroan akan menggunakan dana dari kas internal untuk membuka lahan dan melakukan penanaman.
Perseroan juga berencana untuk menarik pinjaman sebesar Rp 500 miliar pada semester II tahun ini. Perseroan akan menggunakan dana tersebut sebagai belanja modal (capital expenditure/ capex) tahun ini untuk penanaman dan perawatan tanaman sawit yang akan lebih banyak dibandingkan semester I.
Kelik mengatakan, saat ini perseroan memiliki stand by loan sebesar Rp 500 miliar dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Negara Indonesia (BNI) untuk kebutuhan Capex tahun ini. “Sebagian besar dana pinjaman untuk capex akan terserap pada kuartal IV tahun ini,” ucap Kelik.
Lebih lanjut dia menjelaskan, perseroan telah menggunakan capex pada semester I sebesar Rp 80 miliar. Perseroan menggunakan sebagian besar dana tersebut untuk menanam tanaman baru di lokasi perkebunan milik perseroan.
Dana capex yang digunakan untuk kebutuhan perseroan sepanjang semester I diambil dari kas perseroan. Kelik mengatakan, kebutuhan dana capex semester I tidak terlalu besar sehingga masih mampu dipenuhi oleh kas internal. (fik)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler

