Kamis, 14 Mei 2026

Begini Pandangan Schroders terhadap Pasar Saham RI Tahun 2024

Penulis : Jauhari Mahardhika
24 Des 2023 | 07:01 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi investasi saham. (Image by Freepik)
Ilustrasi investasi saham. (Image by Freepik)

JAKARTA, investor.id – Pasar saham Indonesia cukup baik sepanjang tahun 2023, dengan return indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 3,4% (year to date/ytd) hingga November. Sedangkan indeks saham blue chip, seperti LQ45 dan IDX80, memberikan return masing-masing sebesar -0,8% dan -1,6% (ytd) hingga November. Dengan begitu, saham-saham non blue chip mulai mengungguli kinerja pada tahun 2023.

Berdasarkan data dari Bloomberg market mover, saham-saham seperti AMMN dan BREN menjadi penggerak terbesar IHSG dengan kapitalisasi pasar yang mendekati bank-bank besar, seperti BBCA dan BBRI, meskipun likuiditasnya rendah.

“Kinerja ini sejalan dengan aliran keluar modal asing sebesar Rp 14 triliun (ytd) hingga November, karena investor asing mulai mengurangi risiko pada paruh kedua tahun 2023 ketika nilai tukar rupiah melemah menyusul Federal Reserve yang mengindikasikan kecenderungan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer),” tulis Schroders Indonesia dalam ulasannya tentang ‘Outlook Pasar Saham 2024’.

ADVERTISEMENT

Dari sisi valuasi, IHSG diperdagangkan dengan price to earnings (PE) ratio 2024 sebesar 13,4 kali, yang lebih murah dibandingkan pasar di negara lain, seperti Thailand, India, Jepang, atau Amerika Serikat. Namun, masih lebih mahal dibandingkan China.

“Menuju tahun 2024, kami mengekspektasikan narasi yang seharusnya mendukung pasar saham dengan pertumbuhan PDB yang solid mendekati 5% dan pertumbuhan laba perusahaan yang sehat sekitar 11-12% menurut konsensus Bloomberg,” jelas Schroders.

Manajer investasi asing ternama itu mengungkapkan, kebijakan yang lebih dovish dari Federal Reserve AS dapat menstimulasi pertumbuhan dan menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi Indonesia, serta pasar-pasar negara berkembang lainnya.

Di lain pihak, pertumbuhan ekonomi China dimulai dari basis rendah (low base) dengan stimulus yang cukup, sehingga dapat mendorong pemulihan ekonomi lebih baik pada 2024.

Adapun prospek harga komoditas pada 2024 lebih baik karena efek basis yang rendah setelah koreksi pada 2023. Stimulus dari China dapat memberikan dukungan untuk komoditas berbasis logam pada tahun depan.

“Kami memperkirakan adanya kebisingan dari sisi politik karena tahun 2024 adalah tahun pemilu, meskipun setelah pemilu, pasar seharusnya kembali fokus pada faktor fundamental,” sebut Schroders.

Sementara itu, neraca perusahaan-perusahaan di Indonesia diyakini tetap sehat. “Likuiditas domestik perlu dipantau. Bank Indonesia telah mengetatkan likuiditas pada paruh kedua tahun 2023. Karena itu, likuiditas akan menjadi perhatian investor pada 2024 sebagai stimulus pertumbuhan,” lanjut Schroders.

Tahun depan, bank-bank besar seharusnya mampu memberikan kinerja laba yang solid, sedangkan harga komoditas yang stabil akan mendukung margin perusahaan-perusahaan consumer. Tahun politik juga dapat membantu penjualan barang-barang kebutuhan pokok konsumen (consumer staples goods). Selain itu, relaksasi pajak pertambahan nilai (PPN) dapat menopang laba perusahaan-perusahaan properti.

Saran untuk Investor 

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 13 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 23 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 24 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 35 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 58 menit yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia