Kamis, 14 Mei 2026

BBCA Turun Terus, Kenapa?

Penulis : Thresa Sandra Desfika
27 Feb 2025 | 07:11 WIB
BAGIKAN
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA. (Ilustrasi/Perseroan)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA. (Ilustrasi/Perseroan)

JAKARTA, investor.id - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA kembali memerah -0,57% ke Rp 8.775 pada perdagangan 26 Februari 2025 kemarin. Dan sempat menyentuh Rp 8.725 yang merupakan level terendahnya dalam satu tahun terakhir.

Sebanyak 117,84 juta saham BBCA ditransaksikan, frekuensi 43.907 kali, dan nilai transaksi Rp 1,04 triliun.

Saham BBCA banyak dilepas asing dengan net sell Rp 434 miliar. Dalam satu bulan asing net sell di saham BCA Rp 3,66 triliun.

ADVERTISEMENT

Saham BCA sendiri selalu diparkir di zona merah sejak perdagangan 24 Februari 2025. Saham ini melemah 9,30% dalam periode year to date (ytd). Namun demikian, Phintraco Sekuritas dalam review-nya kemarin menyebutkan bahwa saham BBCA terindikasi memasuki fase konsolidasi.

Sebelumnya, dua bos BBCA sempat menyerok saham perseroan. Satu di antaranya adalah Direktur Utama BBCA Jahja Setiaatmadja membeli 337 ribu saham BBCA di Rp 8.900/saham pada 25 Februari 2025. Nilai transaksinya Rp 2,9 miliar.

Selain Jahja, Direktur BBCA Santoso juga menyerok 20 ribu saham BBCA di Rp 8.900/saham pada 25 Februari 2025.  Nilai transaksinya Rp 178 juta.

Terbaru, direktur BCA lainnya, yakni John Kosasih juga menyampaikan bahwa telah membeli 45 ribu saham BBCA di Rp 8.875/saham pada 25 Februari 2025. Total nilai transaksi Rp 399,37 juta.

Sementara itu, secara fundamental, menurut Sucor Sekuritas, BBCA tetap merupakan bank yang kuat, namun pasar perlu menyesuaikan ekspektasi terhadap prospek pertumbuhan yang kurang agresif tahun ini dibandingkan tahun lalu.

Sucor menyatakan target harga BBCA telah direvisi turun menjadi Rp 11.500, meskipun rekomendasi beli tetap.

Moderat

Bank Central Asia (BCA) yang memasang target kredit tahun ini cukup moderat. Pasalnya, tahun ini BCA memproyeksi pertumbuhan kredit sekitar 6-8% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini berada di bawah target dua regulator, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang sebesar 9-11% (yoy) dan Bank Indonesia (BI) sekitar 11-13% (yoy).

Proyeksi kredit BCA tahun ini juga lebih rendah dibandingkan dengan realisasi kredit perseroan tahun lalu yang meningkat 13,8% (yoy) mencapai Rp 922 triliun. Proyeksi yang lebih moderat tersebut lantaran masih banyak tantangan dari sisi likuiditas dan suku bunga di pasar.

Meski demikian, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa perseroan masih tetap optimistis akan kinerja BCA tahun 2025. Di sisi lain, pihaknya juga menekankan untuk tetap waspada dalam kondisi saat ini.

“Kami optimis, sangat optimis, tapi tentu optimis yang terarah, kami harus terus memperhatikan keadaan sekeliling kita. Bagaimana daya beli masyarakat, bagaimana keadaan likuiditas, bagaimana suku bunga yang memang terjangkau oleh para nasabah, jadi banyak faktor, tidak semata optimis, tapi harus waspada,” imbuh Jahja dalam konferensi pers BCA Expoversary 2025 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (20/2/2025).

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 29 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 40 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia