Rupiah vs Dolar AS Hari ini, Tertekan Sentimen Dalam Negeri
JAKARTA, investor.id – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup terkoreksi pada Selasa sore (18/3/2025). Hal itu karena tertekan sentimen dalam negeri.
Mata uang rupiah ditutup melemah 22 poin (0,13%) berada di level Rp 16.428 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar terlihat turun 0,04 poin menjadi 103,3. Nilai tukar rupiah sempat ditutup ditutup melemah 56 poin (0,34%) berada di level Rp 16.406 per dolar AS pada Senin (17/3/2025).
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen dalam negeri yang membebani rupiah hari ini adalah ekonom menilai laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Kinerja dan Fakta atau APBN KiTa Februari 2025 menunjukkan indikasi pelemahan fiskal yang perlu segera diantisipasi. Defisit fiskal sebesar Rp31,2 triliun atau 0,13% terhadap PDB dalam dua bulan pertama tahun ini, ditambah dengan penurunan penerimaan pajak sebesar 30,19% (yoy), menjadi tanda bahaya bagi keberlanjutan kebijakan ekonomi pemerintah.
“Jika tidak ada langkah korektif yang tegas, bukan tidak mungkin defisit bisa melebar hingga melebihi batas aman di akhir tahun,” ungkapnya, Selasa (18/3/2025).
Dilansir dari data Kementerian Keuangan dalam laporan APBN KiTa edisi Februari 2025, realisasi pendapatan negara hingga akhir Februari 2025 mencapai Rp 316,9 triliun atau 10,5% dari target APBN tahun ini. Penerimaan perpajakan mencatatkan angka Rp240,4 triliun atau 9,7% dari target tahun ini, terdiri dari penerimaan pajak Rp187,8 triliun atau 8,6% dari target serta penerimaan kepabeanan dan cukai Rp52,6 triliun atau 17,5% dari target.
Sementara itu, Ibrahim mengatakan, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) telah terkumpul sebanyak Rp76,4 triliun atau 14,9% dari target APBN. Anjloknya penerimaan pajak bukan hanya disebabkan oleh faktor ekonomi yang lesu, melainkan juga permasalahan administrasi dan implementasi sistem Coretax yang gagal beroperasi secara optimal.
“Penurunan pajak yang drastis ini lebih banyak berkaitan dengan kendala dalam implementasi Coretax yang menghambat pemungutan pajak dari sektor-sektor utama,” tambah Ibrahim.
Selain pajak, Ibrahim mengatakan, daya beli masyarakat disebut menjadi faktor utama yang patut dicermati. Inflasi pangan dan energi yang masih bertahan di atas 4% berpotensi menekan konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor terbesar terhadap PDB. Jika daya beli masyarakat terus melemah, maka sektor ritel, UMKM, hingga industri manufaktur akan terdampak signifikan.
“Ini bisa menjadi awal dari perlambatan ekonomi yang lebih dalam,” ucapnya.
Sentimen Eksternal
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Tag Terpopuler
Terpopuler






