Kamis, 14 Mei 2026

Kompetisi Emiten Telko TLKM, EXCL, dan ISAT Bergeser

Penulis : Muawwan Daelami
8 Mei 2026 | 20:00 WIB
BAGIKAN
Telkomsel berhasil memulihkan 99% layanan komunikasi di Sumatera Barat pasca bencana banjir dan longsor dengan menyiagakan 43 genset serta menambah perangkat satelit di titik terisolasi untuk memastikan masyarakat tetap terhubung di tengah situasi darurat. (Telkomsel/Istimewa)
Telkomsel berhasil memulihkan 99% layanan komunikasi di Sumatera Barat pasca bencana banjir dan longsor dengan menyiagakan 43 genset serta menambah perangkat satelit di titik terisolasi untuk memastikan masyarakat tetap terhubung di tengah situasi darurat. (Telkomsel/Istimewa)

Sementara itu, Equity Analyst OCBC Sekuritas Gani menyebut, biaya integrasi EXCL yang selama ini menjadi momok akan berangsur-angsur menurun dari Rp2,4 triliun pada 2025 menjadi di bawah Rp1 triliun pada 2026 dengan gross sinergi sebesar Rp250-350 juta pada 2026. Walau begitu, manajemen EXCL berterus terang akan ada tambahan percepatan depresiasi sebesar Rp5 triliun pada 2025.

Gani pun mempertahankan rekomendasi beli pada saham EXCL dengan target harga Rp3.300 dan EBITDA diperkirakan tumbuh sekitar 2x lebih cepat ketimbang pertumbuhan top line berkat realisasi sinergi.

“Kami memproyeksikan, pendapatan EXCL tumbuh 9,5% pada 2026 didukung kenaikan ARPU seluler seiring membaiknya kondisi makro dan lanskap persaingan yang lebih rasional,” ujar Gani.

ADVERTISEMENT

Bukan hanya itu, dirinya juga memasukkan manfaat sinergi sesuai panduan manajemen. Namun begtu, percepatan depresiasi dan sisa biaya integrasi one-off masih akan membuat EXCL mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp2,1 triliun pada 2026, sebelum akhirnya berbalik laba sebesar Rp3,0 triliun pada 2027.

Sedangkan untuk ISAT, Steven Gunawan, analis KB Valbury Sekuritas memproyeksikan, kinerja ISAT pada 2026 akan bertumbuh ditopang bisnis data dan ekspansi jaringan serta meningkatnya kualitas layanan perseroan.

“Kami mengestimasi, pendapatan data ISAT tumbuh 7,6% yoy menjadi Rp46,7 triliun didorong jumlah pelanggan yang stabil (93,7 juta) dan pertumbuhan trafik sebesar 8,3% yoy yang berdampak pada stabilitas yield (Rp2,44/MB) serta meningkatnya ARPU secara moderat menjadi Rp44,9 ribu.

Potensi upside tambahan data dari fixed broadband (FBB) dengan jumlah pelanggan yang diperkirakan tumbuh 6,6% yoy sehubungan dengan penetrasi yang masih rendah. Secara keseluruhan, kami memproyeksikan total pendapatan ISAT meningkat 4,9% yoy menjadi Rp59,3 triliun,” papar Steven dalam riset.

Dari sisi margin, Steven juga mencatat, margin ISAT akan tetap terjaga berkat disiplin biaya yang berlanjut. Adapun, cash cost naik 4,3% yoy menjadi Rp31,2 triliun dengan cost of services menguat 3,7% yoy menjadi Rp24,7 triliun.

Begitupun, total beban diperkirakan naik 3,4% yoy menjadi Rp46,8 triliun, yang menunjukkan perbaikan yang jelas dibanding 2024 sehingga hal ini mendukung pertumbuhan EBITDA sebesar 5,6% yoy menjadi Rp28,1 triliun.

Atas dasar tersebut, Steven memproyeksikan, margin EBITDA Indosat sebesar 47,4% pada 2026 dengan laba bersih mencapai Rp6,0 triliun dan margin tumbuh menjadi 10,2% didorong operating leverage dan biaya pendanaan yang lebih rendah.

“Kami mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga ISAT di Rp2.500. Target ini berdasarkan valuasi 3,3x FY26F EV/EBITDA. Dibandingkan dengan valuasi saat ini sebesar 2,9x, menurut kami ISAT masih cukup murah mengingat momentum pertumbuhan laba dan disiplin biaya terus membaik,” tandas Steven.

Editor: Muawwan Daelami

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 28 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia