Bekal Sebelum Jual Beli Saham BBCA
JAKARTA, investor.id – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus disorot para pemodal. KB Valbury Sekuritas mengungkapkan analisisnya untuk mengoptimalkan cuan saham BBCA, bila pemodal melakukan trading pada perdagangan Senin (11/5/2026).
KB Valbury Sekuritas merekomendasikan buy on weakness saham BBCA atau beli saat harga turun. Untuk trading harian, target harganya di Rp 6.350. Pemodal bisa masuk di kisaran harga Rp 6.100-6.175 (entry price).
Baca Juga:
MAPI Diakuisisi, MAPA Paling RecommendedSecara teknikal, level resistance (batas atas) saham BBCA di Rp 6.350, sedangkan level support (batas bawah) Rp 6.100.
“Waspada jika harga menembus Rp 6.100. Stop loss di level Rp 5.850,” tulis KB Valbury Sekuritas dalam ulasannya, yang dikutip pada Minggu (10/5/2026).
Baca Juga:
Rahasia BBRI, BMRI, BBNI, hingga BBTNPada perdagangan Jumat (8/5/2026), saham BBCA atau BCA ditutup terkoreksi 0,8% ke level Rp 6.175. Dengan begitu, dalam sepekan terakhir, BBCA naik 5,5%. Namun, dalam sebulan, BBCA terpangkas 5% dan year to date (ytd) anjlok 23,5%.
Target Harga Selanjutnya
MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA. Namun, target harga saham BBCA diturunkan menjadi Rp 8.700 dari sebelumnya Rp 10.500.
Perubahan drastis target harga ini mencerminkan estimasi valuasi PBV 2026 sebesar 3,4 kali dan 2027 sebesar 3 kali. Hal itu seiring dengan revisi tingkat imbal hasil yang disyaratkan investor (cost of equity/CoE) menjadi 7,5%.
MNC Sekuritas memperkirakan pertumbuhan PPOP (pre-provision operating profit), peningkatan efisiensi yang berkelanjutan, serta posisi permodalan yang kuat akan mendukung ketahanan laba BBCA – meskipun ada tekanan jangka pendek pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM).
Risiko utamanya jika pertumbuhan kredit lebih lambat serta terjadi pemburukan terhadap kondisi ekonomi makro.
Selain itu, likuiditas pasar berpotensi tetap berfluktuasi menjelang MSCI rebalancing, yang dapat memicu arus dana masuk/keluar di pasar saham.
Baca Juga:
BIPI Buka-bukaan, Butuh Rp 86 TriliunSementara itu, Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam risetnya soal sektor perbankan menyebutkan bahwa BCA (BBCA) tetap menjadi benchmark kualitas industri perbankan Indonesia dengan dana murah (current account saving account/CASA) terkuat dan profil paling defensif.
“Tetapi, valuasi BBCA paling premium dengan PBV (price to book value) sebesar 2,9 kali dan PER (price to earnings ratio) mencapai 13 kali, sehingga ruang re-rating relatif lebih terbatas dibandingkan bank lain,” tulis tim riset Kiwoom Sekuritas.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Tag Terpopuler
Terpopuler






