Kamis, 14 Mei 2026

Dividen Telkom (TLKM) Usai Ungkap Laba, plus Rencana Aksi

Penulis : Jauhari Mahardhika
13 Mei 2026 | 06:03 WIB
BAGIKAN
Kantor Telkom Indonesia (TLKM). (Foto: Telkom)
Kantor Telkom Indonesia (TLKM). (Foto: Telkom)

Telkom (TLKM) menargetkan proses pemisahan usaha (spin off) aset serat optik rampung pada kuartal III-2026. Aset fiber tersebut akan dikelola oleh PT Telkom Infrastruktur Indonesia (Infranexia).

Manajemen TLKM juga menyebutkan bahwa pihaknya tengah mengeksplorasi opsi untuk memasukkan aset serat optik dari BUMN lain, meski hingga kini belum ada keputusan final soal itu.

Mengenai proses streamlining, TLKM telah menandatangani perjanjian penjualan saham bersyarat terkait kepemilikan saham di AdMedika dan TelkoMedika pada Maret 2026.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas dalam riset sebelumnya menyebutkan bahwa TLKM menerima arahan dari Danantara untuk mengonsolidasikan aset serat optik dari PLN Icon Plus.

Meski ini sejalan dengan tujuan yang lebih luas yakni merapikan infrastruktur BUMN, inisiatif ini juga memiliki tujuan strategis untuk meningkatkan profil investasi Infranexia, setelah penyesuaian laporan (restatement) aset serat optik.

“Kami memperkirakan bahwa penambahan aset serat optik milik PLN akan membantu memulihkan skala bisnis serta memperkuat potensi monetisasi, sehingga lebih menarik bagi investor strategis,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan dalam risetnya.

PLN Icon Plus mengoperasikan jaringan serat optik yang luas dengan panjang lebih dari 400 ribu kilometer di seluruh Indonesia. Jaringan ini melayani sekitar 1,2 juta home connected dan 2,7 juta home passes, serta melayani segmen korporasi, pemerintah, dan kebutuhan internal PLN terkait konektivitas kelistrikan.

Secara tahunan, pendapatan telekomunikasi dan EBITDA PLN Icon Plus pada 2025 masing-masing diperkirakan sebesar Rp 5,4 triliun dan Rp 2,6 triliun. Ini menunjukkan bahwa PLN Icon Plus berpotensi memberikan tambahan EBITDA sekitar 26% terhadap Infranexia milik TLKM.

Saat ini, diskusi lebih berfokus pada konsolidasi aset dibandingkan akuisisi perusahaan secara langsung. Dampak akhir akan sangat bergantung pada struktur konsolidasi.

“Namun, dengan asumsi aset serat optik PLN Icon Plus dimasukkan dan sepenuhnya dikonsolidasikan ke dalam Infranexia, kami memperkirakan EBITDA proforma dapat mencapai Rp 12,7 triliun,” ungkap Kafi.

Sementara itu, dengan adanya rencana TLKM melepas 20-30% saham Infranexia kepada investor strategis pada valuasi EV/EBITDA sebesar 9-12 kali, BRI Danareksa Sekuritas melihat potensi kenaikan nilai wajar (fair value) saham TLKM ke kisaran Rp 4.100-4.500.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham TLKM. Target harga saham TLKM dipatok sebesar Rp 4.000. Ini mengindikasikan potensi kenaikan harga saham hingga 35,5%.

Target harga tersebut berdasarkan valuasi standar deviasi (SD) +1 pada EV/EBITDA sebesar 5,8 kali, yang dikombinasikan dengan metode discounted cash flow (DCF).

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 29 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia