Kamis, 14 Mei 2026

Wall Street Goyang, Harga Minyak dan Inflasi Bikin Pasar Ketar-ketir

Penulis : Indah Handayani
13 Mei 2026 | 04:30 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Wall Street. (Foto AP/Richard Drew)
Ilustrasi Wall Street. (Foto AP/Richard Drew)

NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks saham Wall Street mayoritas ditutup melemah pada perdagangan Selasa (12/5/2026) di tengah lonjakan inflasi dan kenaikan tajam harga minyak dunia akibat memanasnya kembali konflik AS-Iran.

Dikutip dari CNBC internasional, Indeks S&P 500 turun 0,16% ke level 7.400,96 setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) baru. Nasdaq Composite melemah lebih dalam sebesar 0,71% menjadi 26.088,20.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average masih mampu menguat tipis 56,09 poin (0,11%) ke level 49.760,56.

ADVERTISEMENT

Tekanan terbesar datang dari saham-saham teknologi, khususnya sektor chip, yang mulai mengalami aksi profit taking setelah reli tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Saham Micron Technology anjlok 3,6% setelah sebelumnya melonjak lebih dari 37% dalam sepekan dan melesat sekitar 53% sepanjang bulan lalu berkat euforia industri chip memori.

Sementara itu, saham Advanced Micro Devices turun 2% dan Qualcomm ambles 11%. Padahal sepanjang April, AMD sempat melesat lebih dari 74% dan Qualcomm naik sekitar 39%.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 4,19% ke US$ 102,18 per barel, sedangkan Brent crude menguat 3,42% menjadi US$ 107,77 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi ‘sangat rapuh’ dan ‘on massive life support’ setelah Teheran menolak proposal terbaru AS untuk mengakhiri perang.

Inflasi Kian Panas

Dalam proposal balasan terbarunya, Iran meminta kompensasi perang, kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta pencabutan sanksi ekonomi.

Lonjakan harga energi membuat investor semakin khawatir terhadap tekanan inflasi dan pelemahan daya beli konsumen AS.

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,6% pada April sehingga inflasi tahunan mencapai 3,8%. Angka tersebut lebih tinggi dibanding proyeksi ekonom sebesar 3,7% dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2023.

“Ini memang belum seperti longsoran besar, tetapi kenaikannya terus terjadi secara bertahap,” ujar Senior Portfolio Manager Globalt Investments Thomas Martin.

Menurut dia, inflasi berpotensi terus meningkat selama konflik Timur Tengah berlanjut dan negosiasi antara AS dan Iran belum menunjukkan kemajuan berarti.

“Kenaikan harga bensin dan berbagai kebutuhan lainnya akan semakin menekan konsumen. Situasinya membuka peluang tekanan ekonomi berlanjut,” kata Martin.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 21 detik yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 29 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia