Kamis, 14 Mei 2026

Kagumi dan Terinspirasi Bob Sadino

Investor.id
20 Nov 2015 | 14:51 WIB
BAGIKAN

Hampir setiap orang memiliki idola dan biasanya berpengaruh ke kehidupannya. Sebagai pengusaha muda yang tengah membangun bisnis, Pulung Aldila, founder No Sleep Coffee, pun memiliki tokoh idola, yakni almarhum pengusaha Bob Sadino.


Pulung mengaku banyak belajar ilmu berusaha dari almarhum Bob Sadino. Dia menilai, Bob Sadino sebagai God Father of Business in Indonesia, karena memulai usaha dari nol hingga akhirnya menuai kesuksesan.

ADVERTISEMENT


Menurut dia, Bob Sadino yang semasa hidupnya menjadi pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick merupakan sosok pengusaha yang menjadi inspirasi dan banyak dikagumi para pengusaha muda, karena berhasil berbisnis justru setelah jatuh miskin.


Dia juga sangat menyukai kesederhanaan Bob. Meskipun sudah menjadi pengusaha yang sukses, kesehariannya sangat sederhana, tidak menonjolkan diri, dan tidak pamer. Bob Sadino bisa menunjukkan kepada Indonesia, bagaimana perjuangannya dari nol sampai menjadi pengusaha yang sukses (from zero to hero).


“Bob Sadino adalah idola saya, dan sosok beliau tidak akan pernah mati,” ujar Pulung kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.


Terinspirasi dari pengusaha yang diidolakan, dia pun memberanikan diri untuk membuka usaha dari nol. Pulung mengembangkan usahanya di sektor minuman dengan menciptakan sebuah produk bernama No Sleep Coffee.


Dia berpendapat, pengusaha muda merupakan aset negara yang harus dijaga karena umumnya mempunyai ide dan kreativitas dalam membuat dan menciptakan sebuah gagasan dan peluang usaha baru. Jika sukses, pertumbuhan ekonomi Indonesia pun akan terus meningkat.


Edukasi Kopi

Pada kesempatan tersebut, Pulung menyampaikan bahwa No Sleep Coffee merupakan produk yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan produk minuman kopi lainnya yang umumnya dijual di Indonesia. Hal yang membedakan adalah pada cara penyeduhan dan proses pembuatannya.


Selama ini, masyarakat Indonesia sering menyeduh atau menyajikan kopi dengan air panas dan sudah menjadi kebiasaan. Sedangkan No Sleep Coffee disajikan dengan cara seduhan dingin, atau yang dikenal dengan istilah cold brew.


Dia menjelaskan, penyeduhan kopi dengan suhu dingin bisa menurunkan kadar asam kopi, sehingga lebih aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan sakit pada perut atau lambung. Teknik penyeduhan dingin dipelajarinya selama setahun di luar negeri.


“Selama ini, masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan kopi bubuk dalam kemasan sachet dan menyajikannya dengan air panas. Tetapi, No Sleep Coffee hadir dengan inovasi baru dan penyajian baru yang lebih fresh,” ujarnya, berusaha meyakinkan.


Pulung mengatakan, No Sleep Coffe bukanlah kopi bubuk, melainkan kopi siap minum (ready to drink) yang diseduh dingin. Produk ini dijual dalam kemasan botol yang elegan. Terdapat dua varian dari No Sleep Coffee, yaitu Ice Long Black (kopi hitam) dan Iced Coffee Latte (kopi dengan campuran susu).


Dia melanjutkan, proses pembuatan No Sleep Coffee juga berbeda karena sudah memakai formula baru. Bahan baku berupa biji kopi diolah dengan sebaik mungkin dan mesin yang digunakan untuk mengolahnya juga mesin lokal berkualitas tinggi.


Dukungan Kawan

Dalam menjalankan bisnisnya, Pulung dibantu oleh teman-temannya yang loyal dan mempunyai jiwa kewirausahaan yang hebat, yakni Ardianto Putra, Win Hasnawy, dan Riska llmli Imran.


“Saya sangat senang menjalankan bisnis ini karena dibantu oleh teman-teman yang hebat dan berpengalaman di bidangnya masing-masing,” ujarnya.


No Sleep Coffee diakuinya merupakan bisnis yang menyenangkan karena menjalankan proses industri dari hulu ke hilir. Produk hulu karena biji kopi yang dipakai asli Indonesia dan berasal dari Gayo, Aceh Tengah, kemudian, diolah menjadi produk hilirnya, yakni No Sleep Coffee.


Dia mulai menjalankan bisnisnya itu sejak tahun 2014. Ia optimistis, usahanya akan terus berkembang karena meminum kopi adalah bagian dari kehidupan dan tradisi masyarakat Indonesia secara turun-temurun yangn masih terus berlangsung hingga sekarang.


Terkait No Sleep Coffee, nama itu terinspirasi dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang memanfaatkan kopi sebagai ‘obat’ agar seseorang tidak cepat tidur dan memberi semangat baru. Melalui No Sleep Coffee, ia ingin memberikan edukasi kepada konsumen Indonesia bahwa kopi Indonesia berkualitas tinggi. Bahkan, kopi Indonesia lebih baik daripada yang diimpor.


Sementara itu, kelebihan lain dari No Sleep Coffee adalah tidak memakai bahan pengawat, seperti kopi lainnya. Pemakaian gula juga dikurangi agar rasa asli kopi lebih terasa. “Saya ingin memberikan edukasi kepada konsumen bahwa kopi Indonesia adalah yang terbaik di dunia,” tambahnya. (*)

Sumber : Investor Daily

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Macroeconomy 1 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 30 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia