Kamis, 14 Mei 2026

Sentimen MSCI Bikin IHSG Turun Nyaris 2%, OJK Sebut Masih Batas Wajar

Penulis : Monique Handa Shafira
13 Mei 2026 | 14:28 WIB
BAGIKAN
Investor melihat pergerakan saham melalui monitor. Investor Daily/David Gita Roza
Investor melihat pergerakan saham melalui monitor. Investor Daily/David Gita Roza

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mengalami koreksi hampir 2% pada Rabu (3/5/2026). 

Secara intraday, IHSG sempat menempati posisi 6.726 sebagai level terendah dan 6.787 sebagai level tertinggi.

Pada pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka melemah ke level 6.763. IHSG terus betah berada di zona merah. Hingga penutupan sesi I, IHSG ditutup melemah sebesar 1,81% ke posisi 6.734.

ADVERTISEMENT

Menanggapi tekanan terhadap IHSG tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyampaikan bahwa penurunan indeks masih dalam batas wajar.

Menurutnya, penurunan IHSG yang di kisaran 1% dan tidak sampai 2% ini salah satunya merupakan respons terhadap hasil review indeks Mei 2026 yang dilakukan oleh MSCI, di mana sejumlah nama emiten besar dihapus atau didepak dari indeks MSCI.

"Hari ini kalau kita cermati tadi sampai pukul 10.00 WIB, terkonfirmasi ada penurunan indeks, tapi dengan tingkat aktivitas yang kami nilai masih dalam batasan wajar. Jadi, masih dalam batasan koreksi rentang yang wajar," tutur Hasan dalam konferens pers di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Sementara itu, Hasan menyebut, saham-saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI tidak mengalami kondisi auto rejection bawah (ARB) atau menyentuh harga terbawah yang diizinkan.

Sebagai informasi, pada MSCI Global Standard Index, saham yang didepak atau dikeluarkan, antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Sedangkan, saham yang dihapus atau dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap, antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).

Selanjutnya, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).

Berikutnya adalah PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Hasan melanjutkan, frekuensi dan volume serta nilai transaksi di pasar modal Indonesia juga cukup baik. Dia menilai bahwa secara rata-rata tidak ada perbedaan atau masih dalam batas normal dibandingkan hari-hari sebelumnya.

"Jadi, ini juga menunjukkan tidak adanya upaya panic selling atau reaksi satu arah berupa arus katakanlah upaya menjual saham-saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian," tuturnya.

Editor: Erta Darwati

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 20 detik yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 29 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia