Kamis, 14 Mei 2026

Inkubator Bisnis UKM Sawit Perlu Diperbanyak di Sentra Produksi

Penulis : Tri Listiyarini
23 Okt 2025 | 23:21 WIB
BAGIKAN
Pembangunan inkubator bisnis bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) sawit perlu diperbanyak, terutama di sentra-sentra produksi. Inkubator bisnis di antaranya dapat membantu UKM terhubung dengan investor. Poin tersebut mencuat dalam Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit bertajuk Kolaborasi Media dan Pelaku UKM Sawit untuk Indonesia Emas 2045 di Serpong, Banten, Kamis (23/10/2025). (Foto : TL)
Pembangunan inkubator bisnis bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) sawit perlu diperbanyak, terutama di sentra-sentra produksi. Inkubator bisnis di antaranya dapat membantu UKM terhubung dengan investor. Poin tersebut mencuat dalam Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit bertajuk Kolaborasi Media dan Pelaku UKM Sawit untuk Indonesia Emas 2045 di Serpong, Banten, Kamis (23/10/2025). (Foto : TL)

JAKARTA, investor.id–Pembangunan inkubator bisnis bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) sawit perlu diperbanyak, terutama di sentra-sentra produksi. Kehadiran inkubator bisnis tersebut akan lebih baik dengan melibatkan perusahaan besar, pemerintah daerah, dan juga perguruan tinggi.

Inkubator bisnis tersebut tidak hanya mendampingi, tapi juga memfasilitasi jaringan (network) dan bila memungkinkan akses pendanaan ke para angel investor. Keberadaan para pelaku UKM sawit penting bagi Indonesia untuk membantu mempercepat hilirisasi guna menciptakan produk-produk turunan bernilai tambah tinggi.

Director of SEAFAST Center LRI PGK IPB Puspo Edi Giriwono mengatakan, potensi hilirisasi sawit di Indonesia sangat besar dan saat ini sebagian sudah bisa digarap dalam skala UKM (dan UMKM) atau tidak harus oleh industri besar. Karena itu, jumlah UKM sawit tentu perlu ditambah untuk membantu mempercepat hilirisasi itu.

Penambahan UKM baru dan peningkatan kapasitas UKM yang sudah ada butuh bantuan dari pihak lain, termasuk inkubator bisnis. “Itu membantu (inkubator bisnis), supaya mereka enggak harus jauh-jauh datang (misalnya ke IPB), masing-masing tempat (sentra sawit) ada inkubator. Pekerjaan rumahnya tinggak nanti dibuat standar dan pengelolaan jaringan dari inkubator bisnis itu diperhatikan,” kata Puspo saat Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit bertajuk Kolaborasi Media dan Pelaku UKM Sawit untuk Indonesia Emas 2045 di Serpong, Banten, Kamis (23/10/2025).

ADVERTISEMENT

Sebenarnya, inkubator bisnis UKM sawit sudah ada, termasuk yang kini dilakukan IPB. Inkubator bisnis yang melibatkan semua pihak akan jauh lebih baik, di antaranya perusahaan sawit melalui program tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/CSR) miliknya, pemerintah daerah melalui badan litbang, dan perguruan tinggi lewat program pemberdayaan masyarakat dan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Yang terlibat misalnya perusahaan-perusahaan besar lewat CSR-nya tentu itu bisa ikut berperan dalam inkubator bisnis UKM sawit ini, terus pemerintah daerah kan ada balitbang itu juga dapat membantu melakukan set-up, pun universitas menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” jelas Puspo. Pengembangan inkubator bisnis juga bagian dari upaya menciptakan ekosistem UKM sawit yang lebih memadai. Inkubator bisnis akan membantu UKM terhubung dengan investor, jaringan pemasaran, juga bagaimana sampai ke pasar luar negeri.

Berkaca dari berkembangnya perusahaan-perusahaan-perusahaan rintisan (start-up) besar di luar negeri yang diawali dari langkah yang sangat kecil, Puspo mengatakan, hal itu terjadi lantaran ekosistemnya berperan sangat baik. Hal itu hendaknya bisa menjadi cermin dalam pengembangan UKM sawit di Indonesia.

“Kenapa kalau di Amerika Serikat, brand HP (Hewlett-Packard) yang berasal dari yang sangat kecil itu bisa besar, hal itu karena ada ekosistem yang membantu menginvestasi dan seterusnya supaya mereka mengglobal, selain tentu bagaimana mereka bisa menjaga citra. Itulah kenapa UKM atau UMKM asing berani, kita pun harus berani,” jelas dia.

Karena itu, bercermin dari itu, ekosistem yang ada idealnya bisa menghadirkan angel investor bagi UKM sawit. “Angel investor itu mengasih modal, ikut membina UKM-nya, mereka melihat potensinya supaya sama-sama berkembang, apakah itu mulai tersedia di Indonesia?” ujar dia.

Lahirkan Produk Baru

Saat membuka workshop, Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Menengah Kementerian UMKM Metty Kusmayantie menuturkan, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, sektor UMKM berkontribusi lebih dari 61% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja. Angka itu menunjukkan betapa besar peran UMKM dalam menjaga ketahanan perekonomian ansional. Karen itu tepat bahwa UKM/UMK dan koperasi disebut sebagai soko guru perekonomian nasional.

“Capaian itu juga menjadi fondasi penting bagi pengembangan sektor strategis yang memiliki potensi hilirisasi tinggi dan dampak ekonomi luas, salah satunya UKM sawit. UKM sawit berperan penting dalam hilirisasi produk perkebunan, serta menghadirkan inovasi produk turunan bidang pangan, energi, kecantikan, kesehatan, dan juga kerajinan,” ungkap Metty.

Saat ini, terdapat 32 produk turunan sawit yang sudah teridentifikasi diproduksi oleh UKM sawit. Karenanya, dengan kreativitas para UKM sawit diharapkan nantinya bisa menumbuhkan atau melahirkan produk-produk baru dari hilirisasi sawit. Metty mengakui saat ini masih banyak produk UKM sawit yang belum dikenal luas oleh masyarakat karena keterbatasan promosi dan eksposur produk. “Ini menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama,” tutur dia.

Karena itu, Kementerian UMKM mengapresiasi gelaran Workshop Jurnalis Promosi UKM Sawit yang diinisiasi Majalah Sawit Indonesia. Dengan kegiatan tersebut, diharapkan media bisa membantu mempromosikan atau menjadi jembatan antara UKM sawit dengan masyarakat Indonesia sehingga produk UKM sawit dikenal luas.

Media juga diharapkan bisa menjadi penghubung antara pengusaha UKM sawit dengan masyarakat dan pasar. Workshop tersebut digelar Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), dan Asian Agri.

Editor: Tri Listiyarini

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 2 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 31 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia