Arah Rupiah Usai Tembus Rp 17.500
JAKARTA, investor.id - Nilai tukar rupiah (IDR) diprediksi bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari Rabu, 13 Mei 2026.
Pada perdagangan Selasa sore ini (12/5/2026), mata uang rupiah ditutup melemah 114 poin terhadap dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah 120 poin di level Rp 17.528 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.414.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah dibuka melemah 75 poin (0,43%) ke level Rp 17.489 per dolar AS. Sementara itu, dolar AS menguat 0,15% ke level 98.106.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.520 - Rp 17.580," ungkap Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis yang diperoleh pada Selasa (12/5/2026).
Ibrahim mengungkapkan bahwa prospek rupiah masih dibayangi sentimen tentang negosiasi untuk mengakhiri perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan kemajuan.
Baca Juga:
Biang Kerok Rupiah TerperosokRupiah juga diprediksi berisiko kembali melemah setelah AS dikabarkan menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan, termasuk perusahaan yang berbasis di Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman, karena memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Tiongkok.
Dari sisi internal, rupiah diprediksi bergerak lemah seiring komunikasi antara Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo telah pelemahan rupiah yang menembus level Rp 17.500 per dolar AS.
"Sentimen juga terpukul oleh penurunan sektor manufaktur Indonesia pada bulan April, yang pertama dalam sembilan bulan, karena melemahnya permintaan pasca-liburan dan meningkatnya tekanan produksi akibat guncangan geopolitik dan pasokan," beber Ibrahim.
"Ditambah hari ini pasar akan mencermati pengumuman dari MSCI terkait potensi penurunan bobot Indoneia dalam indeks global tersebut," tambahnya.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Tag Terpopuler
Terpopuler






