Kamis, 14 Mei 2026

Kesenjangan Kaya-Miskin Saat Ini yang Terlebar

Penulis : ah
22 Mei 2015 | 13:30 WIB
BAGIKAN

PARIS – Kesenjangan antara si kaya dan si miskin di sebagian besar negara maju di dunia berada pada rekor tertinggi. Menurut hasil studi yang dilakukan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), juga ditemukan adanya perbedaan mencolok antara penghasilan laki-laki dan perempuan.


Di antara 34 negara yang tergabung dalam OECD, kesenjangan pendapatan berada dalam tingkat paling tinggi dalam tiga dekade, yakni 10% golongan orang terkaya berpenghasilan 9,6 kali lebih banyak dari 10% golongan termiskin. OECD menyatakan pada Kamis (21/5), pada 1980-an rasio itu 7:1.

ADVERTISEMENT


Tak hanya kesenjangan pendapatan yang melebar jauh, kesenjangan kesejahteraan bahkan lebih besar lagi dalam rumah tangga. Kelompok 1% rumah tangga terkaya menguasai 18% kekayaan, sedangkan 40% dari seluruh rumah tangga hanya memiliki 3% pada 2012.


Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) OECD Angel Gurria, ketimpangan-ketimpangan itu telah mencapai titik kritis. Ketimpangan di negara-negara OECD berada pada titik tertingi sejak pencatatan dimulai.


“Karena ketimpangan tinggi merugikan prospek pertumbuhan, ada argumen sosial serta ekonomi bagi para pemerintah untuk mengatasi hal ini. Dengan tidak mengatasi ketimpangan, pemerintah menggunting struktur sosial negaranya dan melukai pertumbuhan ekonomi jangka panjangnya,” ujar Gurria.


Studi tersebut juga mengungkapkan, peningkatan ketimpangan antara 1985 dan 2005 di 19 negara-negara OECD melampaui perkiraan 4,7 poin persentase pertumbuhan kumulatif antara 1990 dan 2010.


Faktor pendorong penting melebarnya ketimpangan disebutkan karena bertambahnya kerja paruh waktu dan kontrak kerja, tapi juga maraknya kewirausahaan. Sebab, setengah dari lapangan kerja yang tercipta di negara-negara OECD antara 1995 dan 2003 masuk ke dalam kategori ini.


Laporan OECD itu juga mengungkapkan, seiring melebarnya ketimpangan, ada beberapa penurunan signifikan dalam hal pencapaian pendidikan dan keterampilan di antara keluarga dalam kelompok berpenghasilan rendah. Ini menyiratkan sejumlah besar potensi yang terbuang dan mobilitas sosial yang lebih rendah. (afp/pya)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 3 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 32 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia