Inflasi Mencapai 9,1% di Negara yang Pakai Mata Uang Euro
LONDON, investor.id – Inflasi di negara-negara Eropa yang menggunakan mata uang euro mencapai rekor baru pada Agustus 2022. Ini didorong oleh melonjaknya harga energi, terutama didorong oleh perang Rusia di Ukraina.
Inflasi tahunan di 19 negara zona euro naik menjadi 9,1%, naik dari 8,9% pada Juli 2022, menurut angka terbaru yang dirilis Rabu (31/8) oleh badan statistik Uni Eropa (UE) Eurostat.
Inflasi berada pada level tertinggi sejak pencatatan euro dimulai pada 1997.
Harga juga naik di banyak negara lain saat perang Rusia di Ukraina berlanjut, memicu peningkatan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk energi dan makanan. Kondisi ini kian menekan keuangan rumah tangga.
Di sisi lain, pada musim panas ini terjadi gelombang protes dan pemogokan di berbagai tempat di seluruh dunia. Para pekerja menuntut upah lebih tinggi dan orang-orang muak dengan biaya hidup yang terus naik.
Inflasi di Inggris, Denmark, dan Norwegia juga melonjak walaupun masing-masing memiliki mata uang sendiri, menurut data resmi yang dirilis awal bulan ini.
Inflasi juga tinggi di Amerika Serikat (AS), menambah urgensi bagi bank sentral untuk terus menaikkan suku bunga. Harga-harga naik 8,5% pada Juli 2022 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun lebih rendah dari level 9,1% pada Juni 2022.
Di zona euro harga energi melonjak 38,3% walaupun angkanya sedikit lebih rendah dari bulan sebelumnya, sementara harga pangan naik lebih cepat atau 10,6%, menurut perkiraan awal Eurostat.
Tekanan pasokan global telah mereda dalam beberapa bulan terakhir, namun masalah Eropa tertentu terus mendorong inflasi lebih tinggi, tulis ekonom ING Bank Bert Colijn dalam catatan analis.
“Krisis pasokan gas dan kekeringan menambah tekanan di sisi penawaran pada inflasi ini,” jelasnya, Rabu.
Rusia yang adalah produsen energi utama telah mengurangi aliran gas ke negara-negara Eropa yang memihak Ukraina dalam perang. Langkah tersebut yang mendatangkan malapetaka pada harga-harga secara global.
Pada saat yang sama, hampir separuh Eropa telah dilanda kekeringan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan merugikan ekonomi pertanian, menghambat produksi tanaman pokok seperti jagung, hingga menaikkan harga pangan.
Kenaikan harga untuk barang-barang manufaktur seperti pakaian, peralatan, mobil, komputer, dan buku meningkat menjadi 5% sementara biaya jasa naik 3,8%.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler






