Kemendag Harap WTO Prioritaskan Kepentingan Negara Berkembang
JAKARTA-Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa Konferensi Tingkat Menteri
(KTM) World Trade Organization (WTO) ke-10 di Nairobi, Kenya, diharapkan
mampu memprioritaskan kepentingan negara berkembang dan kurang
berkembang terutama pada isu pembangunan dan pertanian.
"WTO
perlu memprioritaskan perundingan agenda pembangunan dan pertanian yang
menjadi kepentingan utama negara-negara berkembang dan kurang
berkembang," kata Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional
Kementerian Perdagangan, Bachrul Chairi, saat membuka dialog Kebijakan
Sistem Perdagangan Multilateral berskala internasional, di Jakarta,
Rabu.
Dalam dialog dengan tema utama ’Is the Doha
Development Agenda Over or Continuing on Crossroad’ tersebut, Bachrul
mengatakan, dengan memprioritaskan kepentingan negara berkembang dan
kurang berkembang agar manfaat perdagangan terbuka yang diusung sistem
perdagangan multilateral dapat dirasakan lebih berimbang oleh seluruh
negara anggota WTO.
Bachrul menambahkan, WTO perlu menjaga
momentum lahirnya Paket Bali, khususnya pada kesepakatan beberapa isu
pertanian, pembangunan, dan perjanjian fasilitasi perdagangan. Hal
tersebut untuk mendorong tercapainya kesepakatan baru di KTM-10 WTO,
Desember nanti.
"Pemerintah berkepentingan untuk
mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perdagangan
multilateral dan WTO," jelas Bachrul.
Bachrul juga
mengingatkan Agenda Pembangunan Doha di WTO yang mengalami kebuntuan
selama lebih dari 10 tahun sejak digulirkan pada 2001 di Doha, Qatar.
Indonesia sendiri, tengah melakukan deregulasi dan debirokratisasi yang
sejalan dengan perjanjian fasilitasi perdagangan WTO.
Secara
khusus Kemendag menyoroti pentingnya perjanjian fasilitasi perdagangan
terhadap peningkatan perdagangan internasional, termasuk perdagangan
Indonesia. Perjanjian ini mengatur penyederhanaan prosedur ekspor impor
barang sehingga mempercepat arus perdagangan.
"Kebijakan
deregulasi dan debirokratisasi yang dicetuskan Presiden RI sangat
sejalan dengan semangat perjanjian fasilitasi perdagangan WTO. Oleh
sebab itu, Kemendag mendukung perjanjian tersebut untuk segera berlaku,"
tambah Bachrul.
Pada Desember 2015 mendatang, KTM WTO ke-10
akan diadakan di Nairobi, Kenya. Dan diharapkan mampu mengulang
kesuksesan KTM-9 di Bali dengan lahirnya Paket Bali yang merupakan hasil
kesepakatan pertama pada WTO setelah mandeknya perundingan Putaran Doha
sejak 2001 lalu.(ant/hrb)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Tag Terpopuler
Terpopuler




