Kamis, 14 Mei 2026

BI Ramal Ekonomi Global Makin Suram Gegara Penerapan Tarif Resiprokal AS

Penulis : Arnoldus Kristianus
20 Aug 2025 | 15:26 WIB
BAGIKAN
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. (ANTARA/Aprillio Akbar)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. (ANTARA/Aprillio Akbar)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan perekonomian global terus berlanjut, dipicu oleh meluasnya penerapan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS). Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025 berpotensi lebih rendah dari perkiraan semula yang berada di kisaran 3%.

“Implementasi tarif resiprokal AS tersebut menimbulkan risiko akan semakin melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia,” ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil RDG Bulanan Bulan Agustus 2025 yang berlangsung secara virtual pada Rabu (20/8/2025).

Sejak 7 Agustus 2025, tarif resiprokal AS telah meluas dari 44 menjadi 70 negara, dengan tarif yang lebih tinggi untuk beberapa negara, seperti India dan Swiss. Dampak kebijakan ini diperkirakan akan menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi seiring melemahnya permintaan domestik.

Meskipun tekanan inflasi di AS cenderung menurun, mendorong semakin kuatnya ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) ke depan. Namun ketidakpastian di pasar keuangan global masih berlanjut.

ADVERTISEMENT

“Dalam jangka pendek ketidakpastian pasar keuangan global masih berlanjut dan perlu tetap diwaspadai guna menjaga ketahanan ekonomi domestik dari dampak rambatan global,” terang Perry.

Perry menjelaskan, penerapan tarif resiprokal oleh AS juga berdampak beberapa negara. India, misalnya, mengalami gangguan pada kinerja ekspor dan sektor manufakturnya. Sementara itu, perekonomian Eropa, Jepang, dan China diperkirakan lebih baik didorong oleh kesepakatan tarif yang lebih rendah serta dukungan dari belanja fiskal pemerintah.

“Kecenderungan pertumbuhan yang lebih rendah dan menurunnya inflasi mendorong sebagian besar bank sentral menempuh kebijakan moneter yang akomodatif, kecuali Jepang,” tutur Perry.

Di tengah situasi global yang penuh tantangan, BI memandang perekonomian Indonesia akan tetap berada dalam tren positif pada semester II-2025, dengan proyeksi pertumbuhan akhir tahun di kisaran 4,6% hingga 5,4%. BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Dalam kaitan ini, belanja pemerintah termasuk melalui implementasi program prioritas pemerintah, dapat memberikan dukungan terhadap peningkatan kegiatan ekonomi domestik,” pungkas Perry.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 7 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 15 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 33 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia