Kamis, 14 Mei 2026

Rupiah Babak Belur, BI: Tekanan akan Segera Mereda

Penulis : Arnoldus Kristianus
12 Mei 2026 | 19:09 WIB
BAGIKAN
Petugas kasir menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)/
Petugas kasir menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)/

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) mengungkap kombinasi tekanan global dan domestik menjadi penyebab pelemahan rupiah hingga menembus level Rp 17.500 per dolar AS. Meski demikian, BI memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, yang berdampak pada kenaikan harga minyak dan sentimen pasar keuangan dunia.

“Sedangkan dari domestik, meningkatnya kebutuhan dolar secara musiman seperti pembayaran utang luar negeri dan pembayaran dividen serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik,” ujar Destry, Selasa (12/5/2026).

ADVERTISEMENT
Rupiah Babak Belur, BI: Tekanan akan Segera Mereda
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti di Jakarta. (B-Universe Photo/Addin Anugrah Siwi)

Pada perdagangan Selasa sore, rupiah ditutup melemah 115 poin atau 0,66% terhadap dolar AS ke level Rp 17.529, setelah hari sebelumnya berada di Rp 17.414 per dolar AS. Untuk meredam tekanan, dalam beberapa waktu terakhir BI terus melakukan intervensi secara konsisten melalui berbagai instrumen moneter.

Menurut Destry, BI akan melakukan smart intervention di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF). Selain itu, bank sentral juga akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“BI melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik yang tercermin dari masuknya inflow. Khususnya ke pasar surat berharga negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia selama bulan April sebesar Rp 61,6 triliun,” terang Destry.

Rupiah Babak Belur, BI: Tekanan akan Segera Mereda
Pergerakan rupiah terhadap dolar AS. (Ilustrasi: Investor Daily)

Ia menambahkan, likuiditas valuta asing (valas) di pasar domestik juga masih memadai. Hal itu tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas yang mencapai 10,9% secara year to date (ytd) hingga akhir Maret 2026.

Dengan sejumlah indikator tersebut, BI memperkirakan tekanan terhadap rupiah hanya bersifat sementara dan akan mereda dalam waktu dekat. “BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar bisa kembali ke level fundamentalnya,” tutup Destry.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 28 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 37 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 38 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 49 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia