Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
JAKARTA, investor.id – DBS memperkirakan Bank Indonesia (BI) berpotensi menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah yang semakin dalam dan menyusutnya cadangan devisa dalam beberapa bulan terakhir.
Proyeksi tersebut disampaikan DBS dalam laporan bertajuk "Indonesia Growth: Firm Start, Speed Bump Ahead". Ekonom Senior DBS untuk kawasan Uni Eropa, India, dan Indonesia, Radhika Rao, menilai arah kebijakan moneter BI mulai menunjukkan kecenderungan pengetatan (hawkish) meski suku bunga masih dipertahankan pada April 2026.
Menurut Radhika, terdapat dua faktor utama yang dapat mendorong BI beralih ke kebijakan lebih hawkish, yakni tekanan depresiasi rupiah dan potensi kenaikan harga bahan bakar bersubsidi yang berisiko meningkatkan inflasi.
Baca Juga:
Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum“Meskipun kami melihat kemungkinan kenaikan harga eceran bahan bakar lebih kecil, depresiasi rupiah akan menjadi perhatian bagi bank sentral, dengan cadangan devisa yang juga melemah dalam beberapa bulan terakhir,” ungkap Radhika dalam laporan tersebut, Kamis (14/5/2026).
Tekanan terhadap rupiah memang terus meningkat. Pada Kamis (14/5/2026), nilai tukar rupiah bertengger di level Rp 17.523 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 77 poin atau 0,44%, berdasarkan data Investing. Pemicunya yaitu tingginya permintaan dolar AS, kenaikan harga minyak dunia, serta arus modal musiman seperti repatriasi dividen.
Di saat bersamaan, ruang intervensi BI dinilai semakin terbatas setelah cadangan devisa turun US$ 2 miliar menjadi US$ 146,2 miliar pada April 2026. Jika dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar US$ 156,5 miliar, cadangan devisa Indonesia telah menyusut US$ 10,3 miliar.
“Skenario dasar kami adalah BI akan mempertahankan suku bunga pada kuartal ini, namun kami melihat kemungkinan yang semakin besar untuk kenaikan suku bunga yang terukur guna mempertahankan nilai tukar pada kuartal kedua,” ujar Radhika.
DBS juga menyoroti kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang terus meningkat untuk menarik minat investor asing. Kondisi tersebut dinilai sebagai bentuk pengetatan terselubung melalui instrumen pasar uang.
Menurut DBS, pelebaran selisih antara BI-Rate dan imbal hasil SRBI maupun Surat Berharga Negara (SBN) jangka pendek berpotensi menimbulkan sejumlah dampak terhadap sistem keuangan. Beberapa di antaranya ialah pergeseran arus dana ke instrumen jangka pendek, kenaikan imbal hasil tenor 1-2 tahun, penyerapan likuiditas perbankan, hingga berkurangnya ruang ekspansi kredit produktif.
“Investor kemungkinan akan memperhatikan perkembangan ini tahun ini juga,” imbuh Radhika.
Selain itu, BI juga disebut akan melonggarkan pembatasan partisipasi bank domestik di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri untuk membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam kebijakan tersebut, dealer utama tertentu akan diizinkan menjual NDF di pasar luar negeri agar harga NDF offshore lebih selaras dengan pasar domestik.
Sementara dari sisi inflasi, DBS menilai tingkat inflasi Indonesia sebesar 2,4% secara tahunan masih sesuai perkiraan. Namun, kenaikan bertahap Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) perlu menjadi perhatian karena berpotensi diteruskan ke harga konsumen dalam beberapa waktu ke depan.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Tag Terpopuler
Terpopuler






